MAKASSAR, KOMPAS-Sebanyak 3.739 personel gabungan diterjunkan dalam arus mudik dan Idul Fitri di Sulawesi Tengah. Selain keamanan dan kelancaran lalu lintas, potensi bencana hidrometeorologi juga menjadi perhatian utama.
Kepala Kepolisian Daerah Sulteng Inspektur Jenderal Endi Sutendi memimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Tinombala 2026, di halaman Markas Polda Sulteng, Kamis (12/03/2026) sore. Adapun personel gabungan akan mulai menempati posko pengamanan mulai Jumat (13/3/2026).
“Momentum Idul Fitri ini dimanfaatkan masyarakat untuk beribadah, bersilaturahmi, berlibur, dan berkumpul bersama keluarga. Hal ini tentu berdampak pada meningkatnya aktivitas dan pergerakan masyarakat secara masif,” kata Endi.
Dia mengatakan, personel gabungan terdiri dari 1.566 anggota Polri, TNI (399), dan 1.774 orang dari berbagai instansi terkait. Mereka akan mengisi 92 pos pengamanan di seluruh Sulteng, hingga yang berbatasan dengan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Tak hanya keamanan dan kelancaran lalu lintas, Endi juga mengingatkan seluruh pihak untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.
”Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem juga perlu menjadi fokus dan diantisipasi. Selain itu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan dan potensi aksi terorisme,” katanya.
Dengan harga tiket pesawat yang tinggi dan keberadaan bus-bus yang nyaman, jalur darat bakal menjadi alternatif mudik ke Sulteng dari Makassar, Sulsel maupun dari Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.
Perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi darat menyediakan rute yang menghubungkan Palu dan berbagai kabupaten di Sulteng dengan Makasaar maupun berbagai kabupaten di Sulsel.
Salah satunya adalah rute bus dari Makassar ke Palu via Mamuju (Sulbar). Ada pula Makasaar ke Manado dan Gorontalo via Palu (Sulteng) melewati Kabupaten Tolitoli, Buol maupun Parigi Moutong.
Sejumlah rute juga menghubungkan Makassar dengan bagian timur Suleng seperti Tojo Unauna dan Luwuk. Sementara rute lain menghubungkan wilayah di Sulawesi Tenggara dan Sulsel melalui Morowali di Sulawesi Tengah.
Sejumlah wilayah selama ini terbilang rawan longsor seperti di Majene dan Mamuju, Sulbar, hingga Donggala, Sulteng. Di rute Morowali, ancaman banjir dan longsor juga membayangi.
Sulteng selama menjadi tujuan perantau dari berbagai daerah di Sulsel dan Sulbar terutama yang bekerja di daerah-daerah pertambangan seperti Morowali, Palu, dan Donggala.
Sebagian adalah perantau yang telah lama berdiam di Sulteng dan berdagang. Sebaliknya, Makassar juga menjadi tujuan warga Sulteng yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di kota ini maupun yang bekerja.
Fatwa Majida Subil (20), perantau asal Tojo Unauna, Sulteng, yang kuliah di Universitas Negeri Makassar akan mudik menggunakan jalur udara dan darat pada hari yang sama.
“Saya mudik ke Tojo Unauna. Saya naik pesawat dari Makasaar ke Poso dan selanjutnya melanjutkan perjalanan via darat ke Tojo Unauna. Rencananya, Sabtu besok saya mudik, Harapannya jalur lancar. Tadinya mau via darat dari Makassar via Sulbar tapi khawatir ada longsor, apalagi ini musim hujan,” katanya.





