Eskalasi serangan Iran di Selat Hormuz menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Kamis (12/3). Selain itu, Kondisi Kapal Pertamina. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Iran Diduga Serang Enam Kapal Tanker di Selat HormuzKonflik di Selat Hormuz memanas setelah Iran diduga menyerang setidaknya enam kapal tanker dan kargo pada Rabu (11/3), yang menewaskan satu awak kapal. Insiden ini menambah jumlah kapal yang diserang di kawasan tersebut menjadi 16 kapal sejak pertempuran dimulai 28 Februari lalu.
Dampak langsungnya, harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022, menunjukkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan dari salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia.
Serangan terbaru menargetkan kapal Safesea Vishnu berbendera Kepulauan Marshall dan Zefyros berbendera Malta, yang keduanya memuat kargo bahan bakar di perairan teritorial Irak. Akibatnya, pelabuhan minyak Irak terpaksa menghentikan operasinya.
Korps Garda Revolusi Iran sebelumnya memperingatkan akan memblokir ekspor minyak dari Timur Tengah ke AS, Israel, atau sekutunya jika serangan terhadap Iran berlanjut, meskipun Presiden AS Donald Trump mengeklaim akan menyerang Iran lebih keras jika hal itu terjadi. Beberapa kapal lain seperti Mayuree Naree, ONE Majesty, dan Star Gwyneth juga dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat proyektil.
Pertamina Beberkan Kondisi Terkini Kapal yang Tertahan di Selat HormuzPT Pertamina (Persero) mengonfirmasi bahwa empat kapal kargo minyak milik Pertamina International Shipping (PIS) sempat terjebak di Selat Hormuz akibat blokade Iran. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan bahwa dua kapal, yaitu Paragon dan Rinjani, telah berhasil melanjutkan operasionalnya. Kedua kapal ini melayani pasar non-captive dengan tujuan ke Kenya dan India, menunjukkan diversifikasi pasar yang telah dijangkau PIS.
Namun, dua kapal lainnya, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di dalam teluk. Pertamina memastikan prioritas utama adalah keselamatan kru dan keamanan kargo, dengan terus berkoordinasi bersama Kementerian Luar Negeri.
Sebagai strategi mitigasi risiko, Pertamina juga melakukan diversifikasi sumber pasokan energi, tidak hanya dari Timur Tengah, tetapi juga dari wilayah lain seperti Afrika dan Amerika, untuk memastikan stabilitas pasokan energi nasional.





