"Krisis Ojol", Driver Akui Selektif Pilih Pesanan hingga Off Bid

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pengguna ojek online (ojol) mengeluhkan sulitnya mendapatkan pengemudi pada sore hingga menjelang malam hari belakangan ini.

Fajar (28), salah seorang driver ojol menyebutkan, program diskon tarif membuat para pengemudi saat ini benar-benar memperhitungkan jarak penjemputan.

Menurut Fajar, idealnya jarak tempuh penjemputan penumpang maksimal 1 kilometer (km). Jika sudah melebihi 1 Km, menurut Fajar harus ada argo atau tarif yang sesuai.

Apalagi kondisi jalanan Jakarta hampir selalu macet.

"Saya contohkan, kalau kondisi kita menjemput penumpang yang lokasinya sejauh 3 km, padahal nganter itu cuma 1 km, tapi jalanan macet, dan ada lampu merah lama," ungkap Fajar kepada Kompas.com, Kamis (12/3/2026). 

"Bisa jadi total jarak tempuh keseluruhan 4 km, tidak macet bisa 15 menit. Sementara kalau macet lebih lama, jadinya kita kayak motoran 6 Km," lanjutnya.

Dengan perhitungan jarak yang dekat itu, Fajar menyinggung estimasi tarif hemat Rp 10.000. Menurutnya, tarif itu tidak sesuai dengan upaya driver.

"Karena Rp 10.000 itu semestinya, menurut perhitungan kami itu hanya argo untuk jemput saja, 3 km," ungkap Fajar.

Dalam kondisi tersebut, menurut Fajar, mematikan aplikasi atau off bid merupakan pilihan yang masuk akal.

Jika penumpang mengeluhkan sulit mendapat driver ojol saat jam pulang kerja, menurutnya hal itu merupakan akumulasi dari banyaknya driver yang off bid atau menghindari macet. 

Baca juga: Program Hemat Dinilai Bikin Pendapatan Ojol Turun Saat Ramadhan

"Ya karena off bid, kalau banyak yang off bid kan driver yang tersedia hanya tinggal sedikit, seperti ada tertulis keterangan aplikasi. Juga ada yang menghindari tujuan tertentu," ungkapnya.

"Ada yang mendiamkan pesanan karena terlalu jauh, kondisi macet. Sementara driver tidak mau melakukan cancel, jadi menyerahkan ke pemesan. Tapi ada juga driver yang berani langsung cancel," tambah Fajar.

Hal serupa disampaikan oleh Mulia (30), driver di kawasan Juanda, Jakarta Pusat. Mulia tak ragu membatalkan pesanan atau mematikan aplikasi saat sistem pemesanan penumpang dalam kondisi blasting atau menyebar secara acak, bukan jarak dekat. 

Biasanya hal itu terjadi saat hujan deras, kondisi banjir, dan cuaca buruk. Ditambah lagi, pemesan menggunakan mode hemat. 

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Kalau sudah blasting, mendingan kita off bid, atau berani cancel. Saya begitu biasanya langsung off bid. Sudah hafal saya kalau blasting," tutur Mulia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Pastikan Operasi Militer di Iran Rampung dengan Cepat
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kapolri-Panglima TNI Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat 2026 di Monas
• 17 jam laludetik.com
thumb
KPK: Gus Yaqut Terbitkan Kepmen Kuota Haji Tambahan 50:50, Tak Disebarluaskan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Diprediksi Terkoreksi, Perhatikan Analisa Empat Saham Ini
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Rismon Ajukan Restorative Justice Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo: Kami Tidak Mundur 0,1 Persen pun
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.