Penulis: Fityan
TVRINews – Baghdad
Operasi penyelamatan dilakukan di tengah klaim Israel atas tewasnya ilmuwan nuklir Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa sebuah pesawat pengisi bahan bakar militer jatuh di wilayah barat Irak pada Kamis 12 Maret 2026.
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik regional yang kian memanas, bersamaan dengan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengenai operasi terhadap program nuklir Iran.
Pihak militer AS menyatakan bahwa upaya pencarian dan penyelamatan (SAR) sedang berlangsung untuk mengevakuasi personel yang berada di dalam pesawat Boeing KC-135 Stratotanker tersebut. Laporan awal menyebutkan terdapat enam anggota layanan di dalam pesawat saat kecelakaan terjadi.
"Insiden terjadi di ruang udara kawan selama Operasi Epic Fury. Kami tegaskan bahwa jatuhnya pesawat ini bukan disebabkan oleh tembakan musuh maupun friendly fire," demikian pernyataan resmi CENTCOM.
Seorang pejabat AS, yang berbicara dalam kondisi anonim kepada Reuters, mengungkapkan bahwa pesawat kedua yang terlibat dalam insiden tersebut juga merupakan tipe KC-135 dan berhasil mendarat dengan selamat di pangkalan terdekat.
Ancaman terhadap Kepemimpinan Iran
Di Yerusalem, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan pernyataan pers perdana sejak pecahnya konflik.
Ia mengklaim bahwa serangan udara Israel telah berhasil menewaskan sejumlah ilmuwan nuklir papan atas Iran guna menghambat ambisi teokratis Teheran dalam mengembangkan senjata pemusnah massal.
Netanyahu juga melontarkan peringatan keras kepada Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang baru saja menggantikan mendiang ayahnya.
"Saya tidak akan memberikan polis asuransi jiwa kepada pemimpin organisasi teroris mana pun," ujar Netanyahu dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring. "Kami menciptakan kondisi optimal untuk menumbangkan rezim ini dari dalam."
Dampak Operasional
Kehilangan pesawat KC-135 merupakan pukulan logistik bagi kekuatan udara AS di Timur Tengah.
Pesawat yang telah beroperasi sejak era 1950-an ini merupakan tulang punggung dalam misi pengisian bahan bakar di udara, memungkinkan jet tempur beroperasi tanpa harus sering mendarat.
Insiden ini menambah daftar kerugian aset militer Amerika Serikat di kawasan tersebut setelah sebelumnya tiga jet tempur F-15E dilaporkan jatuh akibat kekeliruan tembakan di Kuwait.
Sementara itu, di perairan internasional, dua pelaut AS juga dilaporkan terluka akibat kebakaran non-tempur di atas kapal induk USS Gerald Ford.
Hingga berita ini diturunkan, identitas para awak pesawat yang jatuh belum dirilis ke publik demi menjaga privasi keluarga dan kelancaran proses investigasi militer.
Editor: Redaktur TVRINews





