Liputan6.com, Sleman- Lampu bohlam menggantung rendah di balik kaca etalase gerobak. Cahayanya memantul pada sayuran yang ditata rapi, ada sawi hijau, kol, wortel, dan telur. Seorang pria berdiri di depan wajan besar yang mulai berasap. Nasi dan bumbu bercampur di atas api kompor.
Pria itu bernama Fian (27). Dia perantau asal Tegal. Sejak akhir 2025, dia mencoba peruntungan dengan membuka lapak nasi goreng di sebuah ruko di Jalan Pasekan, Maguwoharjo, Sleman.
Advertisement
Fian tidak datang sebagai orang baru. Dia sudah lama akrab dengan wajan dan api kompor.
Seusai lulus sekolah, dia merantau dan bekerja membantu pedagang nasi goreng di Jakarta. Bertahun-tahun dia berdiri di belakang gerobak orang lain, mempelajari cara meracik bumbu sekaligus membaca selera pembeli di pinggiran Jakarta.
Kampung Melayu pernah dia singgahi. Setelah itu dia berpindah ke Jatiasih, Bekasi. Di kawasan itu, sejak 2018 dia mulai berjualan nasi goreng. Usaha tersebut bertahan hingga 2022.
Dia merasa jika terus bertahan di tempat yang sama, usahanya tak akan berkembang.
“Nekat aja. Kalau nggak begitu kan nggak dapat tempat. Ikut orang terus kan nggak ada perkembangan. Gitu-gitu saja," kata Fian saat ditemui, Kamis (12/3/2026) malam.
Persaingan menjadi salah satu alasan dia meninggalkan Bekasi. Jumlah pedagang nasi goreng di kawasan itu sangat banyak. Gerobak-gerobak sering berdiri berdekatan di sepanjang jalan.
“Kalau di Bekasi saingannya sudah banyak banget. Kalau di sini masih agak mendingan,” ujarnya.



