Bisnis.com, JAKARTA — PT Tokio Marine Life Insurance Indonesia membeberkan asuransi kesehatan kumpulan yang didistribusikan melalui kanal group business menjadi produk yang berkontribusi besar terhadap pendapatan premi perusahaan.
SVP Marketing & Corporate Planning Tokio Marine Life Alexander Mahendrawan menilai produk tersebut terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan perlindungan kesehatan dari perusahaan dan karyawan.
Dia melanjutkan bahwa pihaknya melihat potensi pertumbuhan yang kuat pada segmen ritel melalui saluran distribusi agency.
“Oleh karena itu, perusahaan terus memperkuat kapabilitas agency dalam memasarkan berbagai solusi perlindungan, termasuk produk kesehatan bagi individu dan keluarga,” katanya kepada Bisnis, Jumat (13/3/2026).
Alexander menekankan ke depannya Tokio Marine Life Insurance Indonesia akan terus mengembangkan produk dan layanan yang relevan, sesuai dengan kebutuhan nasabah sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Selain menerapkan itu, untuk mendongkrak pendapatan premi pada 2026, perusahaan akan terus memperkuat tiga kanal distribusi utama yakni agency, bancassurance, dan group business. Ini dilakukan sekaligus untuk memperluas jangkauan pasar.
Baca Juga
- Chubb jadi Pemberi Reasuransi US$20 Miliar Kapal-Kapal AS di Selat Hormuz
- Mobilitas Jemaah Naik, Ini Strategi Zurich Syariah Genjot Pemasaran Asuransi Haji dan Umrah
Selain itu, imbuh Alexander, perusahaan fokus meningkatkan penetrasi pada segmen ritel melalui penguatan tenaga pemasar keagenan hingga optimalisasi dukungan digital untuk meningkatkan efektivitas distribusi dan layanan.
“Di sisi pengelolaan portofolio, perusahaan juga melakukan evaluasi bisnis secara berkala guna memastikan keberlanjutan produk serta kualitas pertumbuhan premi dalam jangka panjang,” ucapnya.
Lebih lanjut, dia turut mengungkapkan tantangan utama yang akan dihadapi industri asuransi jiwa pada 2026 adalah berasal dari dinamika kondisi ekonomi, tingkat penetrasi asuransi yang masih relatif rendah, dan meningkatnya biaya layanan kesehatan atau inflasi medis yang turut mendorong kenaikan klaim kesehatan di industri.
Di sisi lain, lanjutnya, meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan juga membuka peluang pertumbuhan bagi perusahaan asuransi. Untuk menjawab tantangan itu, pihaknya fokus pada penguatan kualitas bisnis melalui pengembangan produk yang sesuai kebutuhan pasar.
“Kemudian, optimalisasi kanal distribusi, peningkatan kualitas tenaga pemasar, serta pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan layanan kepada nasabah,” sebutnya.
Menilik laporan keuangannya, pada Januari 2026 pendapatan premi perusahaan sebesar Rp73,70 miliar, turun 23,84% (year on year/YoY). Sementara itu, klaim dan manfaat dibayar mencapai Rp26,98 miliar.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai premi industri asuransi jiwa pada Januari 2026 turun sebesar 6,15% (YoY) menjadi Rp17,97 triliun.





