Pelaku industri biodiesel mengatakan program campuran 50% minyak sawit mentah atau CPO dalam solar atau B50 tidak bisa dilakukan pada tahun ini. Sebab, kapasitas produksi CPO yang menjadi campuran B50 maupun kilang Pertamina yang mencampurkan CPO masih rendah.
Produk CPO yang menjadi campuran B50 adalah Fatty Acid Methyl Ester atau FAME. Produk tersebut diolah oleh pabrik biodiesel dan dicampurkan bersama solar oleh PT Pertamina (Persero) untuk menjadi biodiesel.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Ernest Gunawan mengatakan Pertamina belum memiliki kilang pencampuran untuk mengolah B50. Menurutnya, perusahaan pelat merah tersebut baru mampu menyediakan B50 untuk industri otomotif.
"Kemarin kami baru rapat dengan Pertamina dan mereka tidak bisa memisahkan tangki B50 untuk kebutuhan industri dan otomotif karena kapasitas mereka terbatas," kata Ernest di Hotel Shangri-La, Kamis (12/3).
Ernest mengatakan, proses uji B50 untuk seluruh sektor belum tentu rampung pada Juni 2026. Sebab, hanya uji jalan untuk kendaraan otomotif yang mungkin selesai pada akhir paruh pertama tahun ini.
Dia mengatakan, kendaraan uji B50 baru akan mencapai jarak tempuh 50.000 kilometer pada bulan depan. Setelah itu, proses pembongkaran mesin dan penelitian hasil uji tersebut memakan waktu sekitar 30 hari.
Jika hasil uji jalan sektor otomotif B50 terbukti berhasil, bahan bakar tersebut masih belum dapat langsung dipakai di lapangan. Sebab, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral perlu merevisi Peraturan Menteri ESDM dan Keputusan Menteri ESDM untuk menyesuaikan program biodiesel tahun ini.
Walaupun revisi aturan bisa dilakukan dengan cepat, industri biodiesel masih memerlukan tambahan investasi. Sebab, kapasitas produksi biodiesel nasional hanya mencapai 17,6 juta kiloliter dari total kebutuhan B50 sekitar 19,5 juta kiloliter.
Ernest menjelaskan kapasitas terpasang seluruh pabrik biodiesel di dalam negeri adalah 22 juta kiloliter. Namun setiap pabrik hanya mampu melakukan produksi sekitar 80% dari kapasitas terpasang untuk menjaga mesin produksi.
"Kami butuh tambahan investasi untuk menaikkan kapasitas produksi 2 juta kiloliter. Kalau pemerintah tetap memaksa program B50 dijalankan tahun ini, kami khawatir program tersebut tidak bertahan lama," katanya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana mempercepat implementasi kebijakan B50. Kebijakan itu merespons harga minyak dunia yang meroket hingga menembus US$118 per barel.
"Tentu dengan kondisi yang ada, pemerintah berpikir untuk mencari alternatif terbaik dalam rangka menjaga pasokan energi nasional,” kata Bahlil.




