EtIndonesia. Keberkahan itu seperti air, sedangkan kita bagaikan perahu yang mengapung di atas permukaan air.
Jika keberkahan melimpah, air akan naik dan perahu pun terangkat tinggi sehingga perjalanan menjadi mudah.
Namun jika keberkahan sedikit, air akan surut dan perahu bisa kandas—bahkan melangkah sedikit pun terasa sulit.
Suatu sore, saya berjalan-jalan di daerah pinggiran kota bersama seorang teman.
Tiba-tiba seorang lelaki tua berpakaian lusuh mendekati kami. Di tangannya ia membawa beberapa kantong sayuran hijau yang ia tawarkan untuk dijual. Sayuran itu tampak sangat tidak menarik—daunnya layu karena kehilangan air, warnanya menguning, bahkan terdapat banyak lubang kecil bekas gigitan ulat.
Namun tanpa banyak bicara, teman saya langsung membeli tiga kantong sekaligus.
Dengan wajah agak malu, lelaki tua itu menjelaskan,
“Sayuran ini saya tanam sendiri. Beberapa waktu lalu hujan turun sangat deras, banyak tanaman saya terendam air dan rusak. Jadi penampilannya memang tidak bagus. Maafkan saya.”
Setelah lelaki tua itu pergi, saya bertanya kepada teman saya,
“Apakah kamu benar-benar akan memakan sayuran itu di rumah?”
Tanpa berpikir panjang ia menjawab,
“Tidak. Sayuran itu sebenarnya sudah tidak bisa dimakan.”
Saya kembali bertanya,
“Kalau begitu, kenapa kamu tetap membelinya?”
Ia menjawab dengan tenang,
“Karena sayuran seperti itu hampir pasti tidak akan ada orang yang mau membeli. Jika saya juga tidak membelinya, mungkin lelaki tua itu tidak akan mendapatkan penghasilan hari ini.”
Kebaikan teman saya membuat saya sangat kagum. Maka saya pun mengejar lelaki tua itu dan membeli beberapa sayuran darinya.
Lelaki tua itu tampak sangat gembira dan berkata,
“Hari ini saya berjualan seharian, hanya kalian yang mau membeli sayuran saya. Terima kasih banyak.”
Beberapa ikat sayuran yang sebenarnya sudah tidak layak dimakan justru memberi saya sebuah pelajaran yang sangat berharga.
Catatan
Ketika kita berada dalam masa sulit, kita sering berharap ada keajaiban yang datang menolong kita.
Namun ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu orang lain, apakah kita bersedia menjadi orang yang menciptakan keajaiban itu?
Ada orang yang percaya bahwa di dunia ini tidak ada keajaiban.
Ada juga yang selalu berharap keajaiban datang menghampiri dirinya.
Namun pernahkah kita menjadi orang yang menciptakan keajaiban bagi orang lain?
Selama setiap orang bersedia melakukan kebaikan kecil, sesungguhnya kebaikan itu dapat berkumpul dan melahirkan harapan yang sangat besar.
Ketika seseorang mencapai usia tertentu dan mulai memahami apa yang pantas dimiliki dan apa yang tidak, itulah sebuah kebijaksanaan.
Jika kamu merasa dirimu masih belum matang, maka kamu masih bisa terus bertumbuh.
Namun jika kamu merasa dirimu sudah sepenuhnya matang, maka kamu hanya tinggal menunggu untuk membusuk.
Jika apa yang kamu lakukan bermanfaat bagi dirimu sendiri, itu disebut kesuksesan.
Tetapi jika apa yang kamu lakukan bermanfaat bagi orang lain, itu disebut pencapaian yang bermakna.
Kecantikan fisik hanyalah sementara. Ia tidak bertahan lama dan pada akhirnya bisa menjadi biasa saja.
Kebijaksanaanlah yang merupakan keindahan sejati yang abadi.
Hargailah hari ini,
karena hari ini akan menjadi kenangan indah di masa depan.
“Keberkahan” berasal dari hati yang tahu bagaimana memberi dan berbagi.
Renungan
Masyarakat kadang terasa semakin dingin dan kurang memiliki rasa kemanusiaan, karena banyak orang hanya menghitung keuntungan.
Berapa banyak yang diberikan harus sebanding dengan berapa banyak yang diperoleh.
Jika tidak ada keuntungan, orang enggan memberi.
Apalagi jika sudah jelas akan mengalami kerugian, hampir tidak ada orang yang mau melakukannya.
Sama seperti sayuran di tangan lelaki tua itu—jelek dan berkualitas rendah. Tidak ada orang yang rela mengeluarkan uang untuk membeli sayuran seperti itu, karena dianggap tidak sepadan dan tidak memberi nilai keuntungan.
Namun bagi lelaki tua itu, sayuran-sayuran tersebut adalah harapan hidup yang ia selamatkan dari ladangnya untuk menyambung kehidupannya.
Ia berharap bisa bertahan hidup.
Ia berharap akan datang sebuah keajaiban.
Perasaan itu sebenarnya sama seperti kita ketika berada dalam kesulitan—kita juga berharap ada keajaiban yang menolong.
Jika manusia bersedia, ketika mereka memiliki kemampuan, untuk menjadi pencipta keajaiban bagi orang lain…
Bukankah di mana pun kita berada, tempat itu bisa menjadi surga? (Jhon)





