Wamen ESDM: Pertamina Sudah Fasilitasi Pembelian Solar untuk SPBU Swasta

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan rencana disetopnya impor BBM solar (gasoil) sudah dimulai. Ia mengatakan PT Pertamina (Persero) sudah mulai memfasilitasi pasokan untuk badan SPBU swasta.

Kementerian ESDM menargetkan seluruh badan usaha SPBU swasta wajib membeli Solar CN 48 dari produksi dalam negeri mulai April 2026. Meski keran impor telah ditutup sejak awal tahun, tapi masih ada masa transisi hingga Maret.

Yuliot mengatakan kebutuhan solar dalam negeri sudah bisa dipenuhi oleh kilang-kilang milik Pertamina, terutama dengan mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

"Jadi yang untuk kebutuhan solar dalam negeri kan kita mengupayakan bagaimana kilang-kilang dalam negeri dengan beroperasinya RDMP Balikpapan itu akan kebutuhan solar di dalam negeri akan tercukupi," jelas Yuliot saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (13/3).

Yuliot menyebut pemerintah sudah mengadakan pertemuan antara Pertamina dengan badan usaha swasta. Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, kata dia, sudah mulai memfasilitasi pasokan solar untuk SPBU swasta.

"Terakhir itu kemarin saya juga fasilitasi untuk berapa SPBU swasta, bisa negosiasi langsung dengan Pertamina. Sudah divasilitasi oleh Pak Dirut (Pertamina)," ungkap Yuliot.

Selain membahas pembelian solar, pertemuan tersebut juga membicarakan terkait pengadaan BBM jenis bensin (gasoline) Pertamina terutama bagi PT Shell Indonesia. Kendati begitu, dia tidak menjelaskan dengan rinci seperti apa hasil pembahasannya.

"Itu yang saya bicarakan kemarin. Jadi kita fasilitasi antara Shell dengan Pertamina. Itu lagi perbicaraan antara mereka," tutur Yuliot.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, mengatakan sudah ada pembahasan antara pemerintah, PT Pertamina, dan setiap badan usaha swasta terkait pengadaan solar di dalam negeri.

Hal ini seiring dengan kebijakan ditutupnya keran importasi solar mulai awal Januari 2026. Meski masih ada masa transisi sampai Maret 2026, tetapi Laode menyebutkan sudah ada badan usaha yang memesan.

"Rencananya April sudah harus menggunakan Solar dalam negeri," ungkap Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (6/2).

Selama masa transisi ini, Laode meminta Pertamina menyiapkan produksi Solar serta menyesuaikan kebutuhan seluruh badan usaha swasta agar tidak terjadi krisis pasokan.

"Pada saat transisi ini, Pertamina harus menyediakan holding port yang memadai. Kemudian kargonya juga seperti apa, di-matching-kan juga dengan berapa volume yang dipesan oleh masing-masing badan usaha," jelasnya.

Selama proses pembahasan, Laode menuturkan Pertamina akan mengikuti spesifikasi yang dibutuhkan badan usaha swasta. Dia membuka peluang sama seperti pengadaan bensin pada pertengahan 2025 lalu, produk yang dijual berupa BBM murni (base fuel).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Ada Gajah di Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta Tahun Ini
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kelme Resmi Luncurkan Jersey Baru Timnas Indonesia di Leave Your Mark Fest 2026, Gelar Festival 4 Hari di GBK
• 22 jam lalubola.com
thumb
Polda Jateng Hadirkan Layanan Mudik Terpadu, Pakai AI hingga Siapkan Angkutan Motor Gratis
• 17 jam laludetik.com
thumb
THR Belum Cair? Bisa Adukan ke Posko Pelayanan Konsultasi dan Pengaduan Disnakertrans Jabar
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Istri Mendiang Pimpinan Tertinggi Iran, Ali Khamenei Dilaporkan Masih Hidup
• 6 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.