Badan Pengelola Investasi Danantara atau BPI Danantara menunjuk Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. sebagai mitra pengelola fasilitas waste to energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk wilayah Bogor. Namun belum ada pengumuman lebih lanjut mitra lokal yang akan join konsorsium bersama Zhejiang Weiming Environment Protection untuk menggarap proyek jumbo itu.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pembentukan konsorsium menjadi langkah penting dalam upaya merealisasikan solusi pengelolaan sampah terintegrasi yang berbasis tata kelola yang baik dan berstandar operasional tinggi.
Ia menjelaskan pemerintah mewajibkan mitra pengelola untuk membentuk konsorsium bersama badan usaha milik daerah (BUMD) dan perusahaan lokal Indonesia. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mendorong transfer teknologi dalam pengelolaan sampah di dalam negeri.
“Fasilitas Bogor dikembangkan dengan keandalan operasional yang kuat, pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, serta kolaborasi dan transfer teknologi dengan pemangku kepentingan lokal,” kata Pandu dalam keterangan resmi, Jumat (13/3).
Saat ini, mitra pengelola untuk proyek PSEL Yogyakarta masih belum diumumkan. Berdasarkan informasi yang beredar, Danantara baru akan mengungkap mitra terpilih pada pekan depan.
Sementara itu, pada tahap pertama pengembangan proyek, masih terdapat tiga wilayah aglomerasi yang belum memasuki proses lelang. Informasi terakhir menyebutkan proyek-proyek tersebut masih perlu melalui proses verifikasi ulang sebelum ikut lelang.
Di sisi lain, Zhejiang Weiming Environment Protection juga memenangkan tender proyek PSEL untuk wilayah Denpasar, Bali. Seiring dengan itu salah satu perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia disebut menjadi mitra lokal untuk konsorsium Zhejiang Weiming.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Katadata, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) disebut berpotensi menjadi mitra lokal. Daaz memang selama ini belum memiliki basis dalam pengelolaan proyek pengelolaan sampah di dalam negeri. Namun perusahaan yang mayoritas bisnisnya bergerak di bidang tambang itu disebut memiliki pengalaman mumpuni dalam mengurus perizinan dan bermitra dengan entitas global.
“Untuk di Bali ya DAAZ itu,” ujarnya.
Soal potensi DAAZ menang tender Danantara ini sebelumnya juga sudah diungkap pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Mentor Baik, Thomas William atau Thowilz. Ia menyebut yang akan menang tender proyek itu justru kemungkinan nama yang belum didengar di kalangan emiten pembangkit sampah yaitu Daaz Bara.
Di samping itu, Thomas William juga menyebut akhir-akhir ini volume perdagangan DAAZ di pasar modal juga tinggi. Ia menilai sektor waste to energy (WTE) masih menjadi sentimen yang cukup menarik di pasar.
“Justru yang saya lagi dengar beredar di market rumor, belum keluar ya, nanti kita coba lihat aja bener atau gak tapi sounding-sounding di market udah mulai ke arah sana (DAAZ),” katanya dalam kanal Youtube Ajaib Investasi, dikutip Kamis (26/2).
Katadata sudah menghubungi manajemen Daaz Bara untuk mendapatkan konfirmasi soal keterlibatan dalam proyek. Namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan yang dilayangkan perusahaan.
Profil Zhejiang Weiming Environment ProtectionZhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. bukan pemain baru di Indonesia. Perusahaan ini sebelumnya telah masuk dalam daftar penyedia sebagai salah satu pemasok atau calon mitra untuk proyek lingkungan Waste-to-Energy (WtE).
Melalui anak usahanya, Weiming Equipment, perusahaan asing itu pernah menandatangani kontrak penyediaan peralatan insinerator WtE dengan perusahaan Indonesia dengan Shanghai Dingxin Investment atau Qingshan Park. Kerja sama ini menjadi bagian dari kolaborasi ekspor teknologi lingkungan.
Di Tiongkok, Weiming dikenal sebagai salah satu pemain utama dalam teknologi dan operasi WtE. Bisnisnya mencakup desain, investasi, pembangunan, serta pengoperasian fasilitas WtE, termasuk manufaktur dan pemasangan peralatan insinerator serta pembangkit listrik dari pengolahan sampah padat perkotaan (municipal solid waste/MSW).
Pada 2023, Weiming Environment menghasilkan sekitar 3,85 miliar kWh listrik, sebagian besar berasal dari pembangkit berbasis WtE. Perusahaan ini juga pernah menawarkan investasi sekitar US$ 225 juta kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk proyek pengelolaan sampah dan skema Build-Own-Operate (BOO) WtE.
Selain itu, Weiming juga sempat menjajaki penggunaan teknologi insinerasi di rencana proyek TPPAS Cirebon Raya serta melakukan pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5279759/original/064359500_1752158034-939bc16d-74c9-4bb3-80ea-a99155cf79bf.jpeg)



