Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyakinkan Presiden Prabowo Subianto bahwa pemerintah tidak perlu takut terhadap guncangan geopolitik yang mengancam ekonomi Indonesia. Hal ini disampaikan Purbaya dalam Sidang Paripurna Kabinet, Jumat (13/4/2026).
Menurut Purbaya, ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa Indonesia akan hancur jika harga minyak mulai menyentuh ke atas US$ 100 per barel.
"Banyak yang bilang ekonomi Indonesia akan hancur morat-marit enggak jelas gitu. Padahal pengalaman kita selama ini enggak demikian. Ini gambar Coincident Economic Index yang biru adalah indeks yang menggambarkan keadaan ekonomi sekarang. Yang hijau harga minyak brent," papar Purbaya.
Dari indeks yang menggambarkan kondisi ekonomi terkini tersebut, Purbaya menuturkan ekonomi Indonesia bagis. Tidak ada kejatuhan atau resesi.
Pada 2007-2008, harga minyak brent naik ke level yang tinggi, hingga di atas US$ 220 per barel secara rerata per bulan. Namun, saat itu, ekonomi Indonesia baik-baik saja.
Ini karena kebijakan fiskal dan moneter saat itu pas. Alhasil, kita masih bisa tumbuh 4,6%. Kondisi yang sama terjadi pada 2011. Saat itu, harga minyak melonjak hingga US$110-US$120 per barel. Sekali lagi, indeks tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia masih bagus.
"Yang biru masih naik terus Pak. Artinya kalau kita punya kebijakan yang pas, moneter maupun fiskal dan kebijakan Bapak nantinya, despite apa, walaupun global ekonomi harga minyak gonjang-ganjing, kita punya cara atau punya pengalaman untuk mengendalikan dampaknya ke perekonomian," ujarnya.
Saat Covid pun demikian, harga minyak meningkat tajam. Namun, kebijakan pemerintah saat itu mampu mengendalikan dampak kenaikan harga BBM yang naik hingga di atas US$ 100 per barel.
"Yang jadi catatan ya ke depan untuk kita adalah kita harus adjust dengan kebijakan atau dengan harga minyak global, tapi kita mesti ceritakan ke masyarakat kita bahwa kita pasti berhasil mengendalikan itu karena pengalaman selama ini kita berhasil.," ujarnya.
"Jadi kita enggak usah takut Pak. Jadi yang analis-analis yang di TikTok, di YouTube yang bilang kita hancur, itu sama sekali enggak pernah ngelihat data Pak," tambahnya.
(haa/haa) Add as a preferred
source on Google




