Iklan Junk Food Membanjiri Generasi Muda, Pola Makan Anak Makin Tidak Sehat

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Pola makan anak-anak dan remaja di seluruh dunia semakin mengkhawatirkan. Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan produk ultra-proses meningkat tajam.
 
Miris di saat yang bersamaan, asupan makanan bergizi seperti buah, sayur, dan sumber protein masih rendah. Laporan terbaru dari UNICEF berjudul Feeding Profit: How food environments are failing children menunjukkan perubahan besar dalam lanskap gizi global.
 
Dunia kini tidak lagi hanya menghadapi masalah anak kekurangan gizi. Tetapi juga lonjakan kelebihan berat badan dan obesitas pada usia yang semakin muda. Obesitas Anak Terus Meningkat Melalui data.unicef.org, secara global, sekitar 1 dari 5 anak usia 5 - 19 tahun kini hidup dengan kelebihan berat badan. Sementara 1 dari 20 anak di bawah usia lima tahun mengalami kondisi yang sama.

Dalam dua dekade terakhir, jumlah anak usia sekolah dan remaja dengan kelebihan berat badan melonjak lebih dari dua kali lipat. Jika pada tahun 2000 jumlahnya sekitar 194 juta anak, pada 2025 angka tersebut meningkat menjadi 391 juta anak di seluruh dunia.
 
Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, obesitas pada anak kini lebih banyak daripada kekurangan berat badan pada kelompok usia 5 - 19 tahun. Pada 2025, tingkat obesitas mencapai 9,4 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan kekurangan berat badan yang berada di 9,2 persen.
 
Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam krisis gizi global. Jika sebelumnya perhatian dunia lebih banyak tertuju pada anak yang kekurangan gizi, kini masalah kelebihan berat badan juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan generasi muda. Konsumsi Gula dan Makanan Olahan Meningkat Pola makan anak yang semakin tidak sehat menjadi salah satu penyebab utama tren tersebut. Data global menunjukkan 60 persen remaja mengonsumsi makanan atau minuman manis setidaknya sekali sehari.
 
Selain itu, sekitar 32 persen remaja rutin minum minuman bersoda. Sementara 25 persen mengonsumsi makanan olahan asin lebih dari sekali sehari.
 
Di sisi lain, banyak anak justru tidak mendapatkan makanan bergizi yang cukup sejak usia dini. UNICEF mencatat banyak anak usia 6 hingga 23 bulan tidak mengonsumsi makanan penting seperti buah, sayur, telur, atau sumber protein hewani, yang seharusnya menjadi bagian penting dari pola makan sehat pada masa pertumbuhan. Pengaruh Besar Iklan Junk Food Laporan tersebut juga menyoroti peran besar industri makanan ultra-proses dalam membentuk lingkungan pangan anak. Makanan cepat saji, camilan tinggi garam, serta minuman manis kini semakin mudah diakses dan dipasarkan secara agresif kepada anak-anak dan remaja.
 
Survei global menunjukkan tiga dari empat anak dan remaja terpapar iklan makanan tidak sehat setidaknya sekali dalam seminggu. Iklan tersebut tidak hanya muncul di televisi, tetapi juga melalui media digital, permainan daring, hingga media sosial yang semakin sering diakses anak-anak.
 
Paparan iklan yang masif ini dinilai memengaruhi preferensi makanan anak sejak dini. Sehingga semakin mendorong anak untuk mengonsumsi produk tinggi gula, garam, serta lemak. Risiko Penyakit Kronis di Masa Depan UNICEF memperingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, konsekuensi kesehatan jangka panjang bisa sangat besar. Anak yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular di masa depan seperti diabetes hingga penyakit jantung.
 
Selain berdampak pada kesehatan individu, peningkatan obesitas juga dapat memicu beban ekonomi dan sistem kesehatan yang lebih besar di berbagai negara. Menurut UNICEF, dunia kini menghadapi bentuk baru malnutrisi, di mana kekurangan gizi dan kelebihan berat badan terjadi secara bersamaan dalam populasi anak.
 
Tanpa perubahan besar dalam sistem pangan global, termasuk regulasi pemasaran makanan kepada anak dan peningkatan akses terhadap makanan bergizi. Generasi muda hidup dalam  risiko menghadapi krisis kesehatan yang semakin kompleks di masa depan.

Baca Juga :

Mengakhiri Polio di Indonesia, Ketika Imunisasi Jadi Investasi Masa Depan Anak

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Periksa Ketua-Wakil Ketua PN Depok, KY Sebut Kena OTT Saja Sudah Langgar Etik
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Daftar Lengkap Mutasi TNI, Eks Ajudan Prabowo Kini Duduki Jabatan di BAIS
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Mudik Selamat, Aman dan Bahagia
• 17 jam laludetik.com
thumb
Berkaca Kasus ABK Fandi Dituntut Mati, Jaksa Agung Minta JPU Lebih Bijak
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Sambut Lebaran, Operasional Whoosh Kembali Normal Mulai Besok
• 8 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.