BANDAR LAMPUNG, KOMPAS - Aktivitas digital masyarakat diperkirakan meningkat tajam selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri 2026. Lonjakan lalu lintas data di wilayah Lampung diproyeksikan mencapai sekitar 25 persen dibandingkan kondisi normal, seiring pergerakan jutaan pemudik dari Pulau Jawa menuju Sumatera melalui jalur penyeberangan Bakauheni.
Wilayah Lampung selama ini menjadi salah satu simpul utama mobilitas mudik antarpulau. Setiap musim Lebaran, arus perjalanan dari Jawa menuju Sumatera dipusatkan di Pelabuhan Bakauheni yang menjadi pintu masuk utama ke Pulau Sumatera. Lonjakan mobilitas ini tidak hanya meningkatkan kepadatan lalu lintas, tetapi juga memperbesar kebutuhan layanan komunikasi dan internet bagi para pemudik.
SVP Head of Marketing Sumatera Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) M. Andre Reinaldy mengatakan, peningkatan trafik data secara nasional selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri diperkirakan mencapai 19 persen dibandingkan kondisi normal. Namun, wilayah Lampung diprediksi mengalami lonjakan yang lebih tinggi karena menjadi jalur utama perjalanan mudik.
“Kenaikan traffic (lalu lintas) data di Lampung diperkirakan hampir 25 persen. Estimasinya, tahun ini ada sekitar 1,5 juta pelanggan yang akan melintas melalui Pelabuhan Bakauheni,” kata Andre dalam acara media gathering di Bandar Lampung, Jumat (13/3/2026).
Menurut dia, lonjakan lalu lintas data tidak hanya dipicu oleh meningkatnya mobilitas masyarakat, tetapi juga perubahan perilaku penggunaan gawai selama Ramadhan. Aktivitas digital masyarakat cenderung meningkat karena berbagai kegiatan, mulai dari komunikasi dengan keluarga, hiburan, hingga aktivitas ekonomi digital.
Dari data yang dihimpun perusahaan, durasi penggunaan layanan internet selama bulan Ramadhan dapat mencapai sekitar 19 jam per hari. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan pada hari-hari biasa yang berkisar antara 7 hingga 8 jam per hari.
Akses terhadap berbagai platform digital menjadi salah satu penyumbang utama lonjakan trafik data. Pengguna internet banyak mengakses layanan media sosial dan video seperti Youtube, Instagram, Facebook, dan TikTok. Selain itu, layanan pesan instan seperti WhatsApp juga menjadi sarana komunikasi utama selama perjalanan mudik.
Di luar kebutuhan komunikasi, penggunaan internet juga meningkat untuk berbagai aktivitas lain, seperti bekerja jarak jauh, berbelanja daring, hingga bermain gim daring. Kombinasi berbagai aktivitas tersebut membuat kebutuhan kapasitas jaringan data meningkat signifikan selama periode mudik.
Seiring dengan potensi lonjakan lalu lintas tersebut, operator telekomunikasi mulai melakukan berbagai langkah untuk menjaga kualitas layanan jaringan. Di Lampung, peningkatan kapasitas jaringan dilakukan terutama di jalur-jalur utama mudik yang menghubungkan Pelabuhan Bakauheni dengan wilayah lain di Sumatera.
Andre mengatakan, perusahaan melakukan pengecekan dan penguatan jaringan di sepanjang jalur tersebut, mulai dari kawasan pelabuhan hingga wilayah perbatasan Sumatera Selatan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan jaringan tetap stabil di tengah peningkatan trafik data selama periode mudik.
Menurut data perusahaan, hingga saat ini terdapat sekitar 1.975 site BTS yang beroperasi di seluruh wilayah Lampung. Selain penambahan kapasitas jaringan yang sudah ada, perusahaan juga menyiapkan sejumlah posko layanan untuk mendukung kebutuhan komunikasi masyarakat selama perjalanan mudik.
“Bukan hanya penambahan jaringan 5G, kapasitas dari jaringan yang ada juga kami tingkatkan. Selain itu, kami juga menyiapkan beberapa posko mudik,” kata Andre.
VP Head of Technology Sumatera IOH Irvan Kurniawan menambahkan, saat ini terdapat sekitar 182 site BTS 5G yang telah diaktifkan di wilayah Lampung. Sebagian besar jaringan tersebut tersebar di 20 kecamatan di Kota Bandar Lampung.
Menurut Irvan, implementasi teknologi 5G di sejumlah wilayah tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas jaringan saat terjadi lonjakan penggunaan data. “Kami menghadirkan teknologi terbaru 5G. Teknologi yang kami implementasikan cukup progresif,” ujarnya.
Ke depan, perusahaan juga berencana memperluas jangkauan jaringan 5G di berbagai daerah lain di Lampung. Namun, implementasi tersebut masih mempertimbangkan sejumlah faktor pendukung, termasuk ketersediaan perangkat yang kompatibel dengan teknologi 5G di masyarakat.
Di Pulau Sumatera, terdapat empat kota yang saat ini menjadi prioritas pengembangan jaringan 5G, yakni Bandar Lampung, Palembang, Medan, dan Batam. Dari hasil kajian perusahaan, tingkat penetrasi perangkat yang mendukung teknologi 5G di kota-kota tersebut dinilai cukup besar sehingga memungkinkan implementasi teknologi tersebut.
Selain di Lampung, perusahaan juga melakukan pengecekan jaringan di sejumlah wilayah lain di Sumatera menjelang periode mudik. Salah satunya melalui kegiatan pengecekan jaringan dari Medan hingga Aceh Tamiang untuk memastikan performa jaringan di sepanjang jalur tol dan jalan non-tol.
Tim teknis juga melakukan pengecekan jaringan di sejumlah titik keramaian masyarakat di Aceh Tamiang, termasuk di surau dan tempat berkumpul masyarakat setelah bencana banjir yang melanda wilayah tersebut pada Desember 2025.
Lonjakan trafik data sering kali diikuti oleh meningkatnya aktivitas penipuan melalui saluran komunikasi digital.
EVP Head of Circle Sumatera IOH Agus Sulistio mengatakan bahwa sebagian infrastruktur telekomunikasi di wilayah tersebut sempat terdampak bencana. Namun, proses pemulihan jaringan telah dilakukan dalam beberapa waktu terakhir.
“Di Provinsi Aceh, kami telah berhasil memulihkan lebih dari 800 BTS yang terdampak bencana. Saat ini, 100 persen BTS Indosat sudah kembali beroperasi,” kata Agus.
Di tengah meningkatnya aktivitas digital masyarakat, perhatian juga diarahkan pada potensi meningkatnya kejahatan digital. Lonjakan trafik data sering kali diikuti oleh meningkatnya aktivitas penipuan melalui saluran komunikasi digital.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kepolisian, Lampung termasuk salah satu wilayah dengan kasus penipuan digital yang cukup tinggi. Modus yang digunakan umumnya melalui panggilan telepon, pesan singkat, maupun panggilan melalui aplikasi pesan instan.
Risiko tersebut juga tercermin dalam laporan Global Anti-Scam Alliance (GASA) bertajuk State of Scams in Indonesia 2025. Laporan tersebut mencatat bahwa potensi kerugian akibat penipuan digital di Indonesia dalam satu tahun terakhir diperkirakan mencapai Rp 49 triliun.
Secara global, kerugian akibat praktik penipuan digital mencapai sekitar Rp 7.080 triliun dan dialami oleh sekitar 57 persen orang dewasa. Di kawasan ASEAN, kerugian akibat scam diperkirakan mencapai Rp 378 triliun dengan tingkat paparan sekitar 63 persen orang dewasa. ((Kompas.id, 12/11/2025)
Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat paparan penipuan digital yang cukup tinggi. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar 66 persen orang dewasa di Indonesia pernah terpapar praktik penipuan digital.
Seiring meningkatnya penggunaan internet selama periode mudik, berbagai pihak mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan yang memanfaatkan saluran komunikasi digital. Upaya perlindungan konsumen diharapkan dapat membantu menekan risiko kerugian akibat praktik penipuan tersebut di tengah meningkatnya aktivitas digital masyarakat.





