tvOnenews.com - Mantan striker tim nasional Italia, Alessandro Matri, mengungkap pandangannya mengenai performa US Sassuolo di musim Serie A 2025/2026.
Menurutnya, klub berjuluk Neroverdi tersebut memang tidak dibangun dengan ambisi utama untuk bersaing memperebutkan gelar, melainkan lebih menitikberatkan pada pengembangan pemain muda.
Musim ini Sassuolo masih berkutat di papan tengah klasemen.
Hingga pekan berjalan, tim tersebut menempati posisi kesembilan dengan perolehan 38 poin dari 11 kemenangan, lima hasil imbang, dan 12 kekalahan.
- Sassuolo Official
Statistik itu mencerminkan performa yang naik turun sepanjang kompetisi.
Dalam analisisnya, Matri menilai model pengelolaan klub Sassuolo berbeda dibandingkan beberapa tim Italia lain yang sukses berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menyebut klub tersebut lebih berperan sebagai tempat pembinaan pemain muda sebelum dijual kembali dengan nilai transfer yang tinggi.
“Sassuolo tidak pernah menunjukkan keinginan untuk berkembang. Mereka tampak seperti proyek yang berbeda dari Bologna, Atalanta, atau Como,” kata Matri dilansir dari Sassuolo News.
Menurut Matri, filosofi klub yang mengutamakan pengembangan talenta membuat banyak pemain muda mendapatkan kesempatan bermain.
Salah satu contoh pemain yang berkembang di klub tersebut adalah bek tim nasional Indonesia, Jay Idzes, yang kini mulai mendapatkan perhatian publik setelah tampil konsisten di lini pertahanan.
Namun pendekatan tersebut juga memiliki konsekuensi.
Ketika tim terlalu fokus pada pengembangan individu, konsistensi performa tim secara keseluruhan sering kali menjadi korban.
“Tujuannya adalah untuk mengembangkan pemain,” tambah Matri.
Sassuolo sendiri memang dikenal sebagai salah satu klub Italia yang sering mempromosikan pemain muda dari akademi atau merekrut talenta potensial dari berbagai negara.
Dalam beberapa tahun terakhir, klub ini berhasil menjual sejumlah pemain dengan nilai transfer besar, yang kemudian menjadi sumber pendapatan penting bagi keberlanjutan finansial klub.
“Ini adalah pekerjaan berkelanjutan untuk mengembangkan pemain, menjual mereka untuk mengumpulkan uang,” ujar Matri.
“Kemudian memulai lagi, tetapi mereka tidak pernah menunjukkan keinginan untuk berkembang.”
- Reuters



