Arahan Luhut Saat RI akan Naikan Batas Defisit APBN di Atas 3%

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang memberikan kelonggaran defisit APBN di atas 3% seiring dampak harga minyak melonjak dan rupiah yang ambrol. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan pun memberikan arahannya.

Luhut menjelaskan bahwa skenario pelanggaran defisit di atas 3% imbas harga minyak yang bergejolak belum terlalu dibutuhkan. Sebab, kondisi fiskal Indonesia menurutnya masih terjaga.

Meskipun, menurutnya memang pemerintah perlu tetap waspada dan memantau perkembangan geopolitik.

"Untuk kita menaikkan budget defisit juga saya kira perlu kita pertimbangkan hati-hati, sedang kita siapkan, tapi kapan dilakukan saya kira kita lihat perkembangan situasi," ujarnya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026).

Adapun, Luhut menjelaskan bahwa terdapat sejumlah skenario konflik di Timur Tengah yang memberikan dampak terhadap lonjakan harga minyak dunia. 

Sebagaimana diketahui, perang Iran dengan AS-Israel memberikan dampak penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak global. 

Baca Juga

  • Airlangga: Defisit APBN Bisa Tembus di Atas 3%, Buka Opsi Terbitkan Perppu
  • DPR Ingatkan Risiko Besar Jika Defisit APBN Diubah di Atas 3% PDB
  • Banggar DPR Sebut Pemerintah Tidak Perlu Lakukan Perubahan APBN 2026

Menurut Luhut, Selat Hormuz tidak akan ditutup seterusnya. Luhut membeberkan terdapat sejumlah skenario yang akan terjadi di Selat Hormuz.

"Ada berbagai skenario dalam perkembangan 1-2 minggu ke depan. Saya kira akan baik-baik," ujar Luhut.

Dia menjelaskan pada tahap eskalasi perang Iran dengan AS-Israel, terjadi serangan langsung Iran ke aset AS di Teluk. Kemudian, terjadi penutupan lebih dari 7 hari di Selat Hormuz yang kemudian menyebabkan lonjakan insurance dan freight premium yang signifikan. 

Pada tahap eskalasi, terdapat pula serangan besar proksi. Lalu, kegagalan total dewan transisi yang menyebabkan instabilitas.

Kemudian, pada tahap prolong terdapat akses terbatas di Selat Hormuz, tetapi ancaman berulang. Serangan pesisir terbatas berlanjut. Negosiasi berjalan lambat. Lalu, Iran telah memulihkan sebagian kapasitas rudal dan drone.

Terakhir, pada tahap deeskalasi terdapat gencatan senjata yang kemudian dimediasi. Pada tahap ini, mulai tidak ada gangguan di Selat Hormuz.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pemerintah telah membuat skenario dampak gejolak harga minyak dunia dan ambrolnya nilai tukar rupiah. Hasilnya, dalam semua skenario baik optimistis hingga terburuk, defisit APBN sulit untuk bisa di bawah 3%.

Dalam skenario optimistis, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) mencapai US$86 per barel, kurs Rp17.000 per dolar AS, maka terjadi defisit mencapai 3,18% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Kemudian, skenario moderat ICP di level US$97 per barel, kurs Rp17.300 per dolar AS, maka defisit mencapai 3,53% terhadap PDB.

Lalu, skenario terburuk dengan ICP di level US$115 per barel, kurs Rp17.500 per dolar AS, maka defisit mencapai 4,05% terhadap PDB.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OTT di Cilacap, KPK Sebut Terkait dengan Dugaan Korupsi Proyek
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
Spesifikasi Shahed-136, Drone Murah Iran yang Ramai Dibandingkan dengan Robot Anjing Polri Rp3 Miliar
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
MBG Gairahkan Produksi Keripik di Ngawi, Kebutuhan Tempe Capai 90 Kg
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
KontraS: Ada Mens Rea di Balik Penyiraman Air Keras pada Andrie Yunus!
• 11 jam laludisway.id
thumb
Pemerintah Waspadai Krisis Polusi Udara Pasca-Musim Hujan
• 13 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.