Jangan Terlalu Cepat Menarik Kesimpulan

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

Karena Kita Tidak Tahu Apa yang Sedang Dihadapi Orang Lain

EtIndonesia. Seorang dokter menerima telepon darurat yang memintanya segera datang untuk melakukan operasi. Begitu menerima panggilan tersebut, ia segera bergegas menuju rumah sakit secepat mungkin. Sesampainya di sana, ia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian operasi dan berjalan menuju ruang operasi.

Saat ia mendekati ruang operasi, ayah dari seorang anak laki-laki yang sedang menunggu dengan sangat cemas tiba-tiba kehilangan kendali dan berteriak kepadanya:

“Kenapa Anda datang begitu lama? Apakah Anda tidak tahu bahwa nyawa anak saya sedang dalam bahaya? Apakah Anda sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab?”

Dokter itu hanya tersenyum dengan tenang dan berkata:

“Maafkan saya, tadi saya tidak berada di rumah sakit. Tetapi begitu menerima telepon, saya langsung datang secepat mungkin. Sekarang saya berharap Anda bisa sedikit menenangkan diri agar saya bisa melakukan pekerjaan saya dengan baik.”

“Tenang?” ayah itu membalas dengan marah.
“Kalau yang berada di ruang operasi itu adalah anak Anda, apakah Anda bisa tetap tenang? Jika anak Anda yang meninggal sekarang, apa yang akan Anda lakukan?”

Dokter itu kembali tersenyum tenang dan berkata:

“Saya akan mengucapkan satu kalimat dari Alkitab:
‘Kita berasal dari debu dan pada akhirnya akan kembali menjadi debu. Terpujilah nama Tuhan.’

Seorang dokter tidak dapat memperpanjang hidup seseorang. Kami hanya berusaha sebaik mungkin di bawah kasih karunia Tuhan. Tolong doakan anak Anda.”

Ayah anak itu bergumam dengan kesal:
“Memang mudah memberi nasihat seperti itu ketika tidak ada hubungan dengan dirinya sendiri.”

Beberapa jam kemudian, operasi pun selesai dengan lancar.

Dokter itu keluar dari ruang operasi dengan wajah gembira dan berkata kepada sang ayah:

“Puji Tuhan, anak Anda berhasil diselamatkan!”

Namun sebelum sang ayah sempat menjawab, dokter itu segera pergi dengan tergesa-gesa sambil berkata:

“Jika ada pertanyaan, silakan tanyakan kepada perawat!”

Ayah itu kembali marah dan berkata kepada perawat:

“Kenapa dia begitu sombong? Bahkan beberapa menit pun dia tidak mau menunggu agar saya bisa bertanya tentang kondisi anak saya!”

Mendengar itu, air mata perawat langsung mengalir.

Ia berkata dengan suara lirih:

“Anaknya meninggal kemarin dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Ketika kami menelponnya untuk datang melakukan operasi bagi anak Anda, sebenarnya ia sedang dalam perjalanan menuju pemakaman anaknya.

Sekarang setelah ia menyelamatkan anak Anda, ia harus segera pergi untuk menyelesaikan pemakaman anaknya sendiri.”

Renungan

Terkadang kita terlalu cepat menarik kesimpulan tentang orang lain.

Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka hadapi.

Banyak orang biasanya dapat berpikir dengan tenang dan memahami orang lain ketika suatu masalah tidak menyangkut dirinya. Namun ketika masalah itu terjadi pada diri sendiri, mereka menjadi gelisah dan sulit mengendalikan emosi.

Saat itulah seseorang cenderung menjadi egois dan menilai segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri.

Jika ucapan atau tindakan orang lain tampak merugikan dirinya, ia mudah sekali membuat penilaian yang keliru, bahkan salah memahami niat baik orang lain.

Dalam cerita ini, ucapan sang dokter:
“Dokter tidak dapat memperpanjang hidup. Kami hanya berusaha sebaik mungkin di bawah kasih karunia Tuhan,”

memberikan kesan seseorang yang memiliki hati lapang dan pikiran yang bijaksana.

Sebagai manusia, ketika kita memiliki kesempatan dan kemampuan, kita hanya bisa melakukan yang terbaik.

Adapun berhasil atau tidaknya suatu usaha, pada akhirnya kita harus menyerahkannya kepada kehendak Tuhan.

Jika berhasil, kita harus bersyukur.
Jika gagal, setidaknya kita tahu bahwa kita telah melakukan yang terbaik.

Daripada terus menyalahkan keadaan atau menyalahkan orang lain, lebih baik kita menerima kenyataan dengan lapang dada dan menata kembali diri kita untuk menghadapi langkah selanjutnya.

Pada akhirnya, orang yang benar-benar dewasa adalah orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika menghadapi masalah.

Sebaliknya, orang yang belum dewasa adalah orang yang dikendalikan oleh emosinya ketika menghadapi masalah. (jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BUMN Pastikan Harga Daging Kerbau Impor Tetap di Bawah HAP Meski Ada Keluhan Pedagang
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Tak Hanya Bupati, KPK Amankan ASN dan Pihak Swasta Saat OTT di Kabupaten Cilacap
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Bulog Bengkalis Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Goreng untuk 61.301 Penerima
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Richard Lee Disebut Terima Perlakuan Khusus di Tahanan, Polisi Buka Suara
• 22 jam lalucumicumi.com
thumb
Prabowo minta jajaran kabinet beri contoh tak gelar "open house" mewah
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.