JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memprediksi harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga 110 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, apabila konflik di Timur Tengah semakin meluas.
Menurut Luhut, lonjakan harga tersebut dapat terjadi jika ada serangan langsung Iran terhadap aset milik Amerika Serikat.
“Dalam skenario eskalasi, harga minyak bisa naik hingga sekitar 110 dolar AS per barel, misalnya jika terjadi serangan langsung Iran terhadap aset Amerika Serikat di kawasan Teluk,” kata Luhut dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga: Purbaya: Harga Minyak di Atas 100 Dolar Tak Selalu Menekan Ekonomi RI
Luhut menilai jalur pelayaran minyak dunia di Strait of Hormuz kemungkinan tidak akan ditutup dalam jangka panjang, meskipun konflik di kawasan tersebut masih berlangsung.
Menurut dia, Iran juga memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas kawasan.
“Perlu diingat bahwa Iran juga memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan, karena perekonomian mereka sangat bergantung pada minyak," ujarnya.
Baca Juga: Bahlil: RI Buka Sumber Impor Minyak dari AS, Tantangannya Waktu Pengiriman 40 Hari
"Selain itu, di sekitar Iran juga terdapat fasilitas besar untuk memproses minyak menjadi produk akhir,” ucapnya.
Ia menambahkan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama dalam perkembangan konflik Timur Tengah. Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mulai menunjukkan perbaikan.
Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- luhut binsar pandjaitan
- harga minyak dunia
- selat hormuz
- perang iran israel amerika
- dewan energi nasional





