DIREKTUR Eksekutif Institut for Development of Economics and Finance atau Indef Esther Sri Astuti mengatakan wacana pelebaran defisit APBN di atas 3 persen realistis dengan sejumlah asumsi makro ekonomi dalam APBN tidak tercapai.
"Secara otomatis akan tembus kalau asumsi makro di APBN meleset semua," kata Eshter di Jakarta, Sabtu (14/3).
Wacana pelebaran defisit APBN, sambung dia, dapat meningkatkan potensi utang baru. Oleh karena itu, menurutnya pengelolaan APBN harus dilakukan dengan bijak.
Baca juga : Purbaya Belum Tahu Soal Wacana Pelebaran Defisit APBN
"Takut digunakan untuk menambah utang. Jadi, lebih diutamakan pengelolaan anggaran APBN yang bijak," ucap dia.
Ia berharap pemerintah dapat selektif dalam menentukan prioritas belanja negara. APBN menurutnya dapat diarahkan pada program yang berdampak pada ekonomi seperti ekspor dan pariwisata.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguasaan eknologi dapat memperkuat industri manufaktur Indonesia.
Baca juga : APBN Februari 2026, Pendapatan Tumbuh 12,8% dengan Defisit 0,53%
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa skenario deifisit APBN dapat mencapai 4,06 persen imbas dari perang di kawasan Timur Tengah.
"Skenario terburuk, yang pesimis itu, dengan harga (minyak mentah dunia) 115 (dolar AS per barel), kurs rupiah kita Rp17.500 (per dolar AS), growth-nya 5,2 (persen), (imbal hasil) surat berharga (SBN) 7,2 (persen), defisitnya 4,06 persen," ujar Airlangga usai sidang kabinet.
Airlangga juga menyebut skenario lain dengan asumsi defisit APBN sebesar 3 persen. (Ant/H-4)





