Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa investor asing masih optimistis akan nasib ekonomi Indonesia ke depan seiring dengan gejolak harga minyak dan nilai tukar rupiah. Bagaimana kemudian aliran dana asing di pasar Indonesia sejauh ini?
Purbaya menjelaskan bahwa jika menilik selisih atas spread yield dari surat berharga negara (SBN) terhadap US Treasury, maka terjadi kenaikan yang terbatas yakni 3 basis poin sejak awal tahun ini.
"Artinya asing masih percaya ke kita," kata Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, arus modal asing ke Indonesia naik turun. Akan tetapi, sebenarnya menurut Purbaya arus modal asing saat ini cenderung positif.
"Jadi setelah gonjang-ganjing gonjang-ganjing di bulan Maret sebetulnya masih masuk ke sini. Artinya mereka percaya betul bahwa pondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini, karena mereka taruh uang," kata Purbaya.
Di pasar modal, terdapat arus keluar masuk di saham dan surat berharga negara (SBN). Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (13/3/2026), terdapat nilai jual bersih atau net sell asing di pasar saham sebesar Rp117 miliar.
Baca Juga
- Setelah Dikabarkan Meninggal, Netanyahu Rilis Pidato Perdana Usai Perang Iran
- Perang AS-Israel vs Iran Hantam Pariwisata, Kerugian Capai US$600 Juta per Hari
- Bank Indonesia: Perang AS-Israel vs Iran Berpotensi Tekan Ekonomi Sumut
"Sepanjang 2026 ini investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp8,85 triliun," kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan tertulis pada Jumat (13/3/2026).
Meski begitu, pada Maret 2026 seiring dengan gejolak harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah yang ambrol, pasar saham Indonesia justru mencatatkan aliran deras dana asing dengan nilai beli bersih atau net buy asing sebesar Rp657,61 miliar.
Berbeda nasib dengan pasar saham, di pasar SBN, mengacu data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, tercatat aliran keluar dana asing yang deras. Per 12 Maret 2026, kepemilikan SBN oleh investor non residen mencapai Rp872,45 triliun, berkurang dibandingkan akhir Februari 2026 sebesar Rp875,36 triliun, atau tercatat net sell asing di pasar SBN Rp2,91 triliun.
Sementara itu, mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di pasar obligasi korporasi, tercatat pula net sell asing sebesar Rp950 miliar per Februari 2026.
Sebagaimana diketahui, harga minyak dan nilai tukar rupiah memang sedang bergejolak seiring dengan kondisi perang di Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel. Perang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.
Pasokan minyak saat ini pun terganggu akibat konflik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz akibat perang juga membuat harga minyak kemudian melonjak.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (13/3/2026), harga minyak Brent bertengger pada level US$100,46 per barel. Sedangkan minyak yang produksi terbesarnya di Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) dijual dengan harga lebih rendah yakni US$95,73 per barel. Meski demikian, harga WTI menjadi yang tertinggi saat penutupan dalam 4 tahun terakhir.
Adapun, rupiah ditutup melemah 0,38% ke Rp16.958 per dolar AS pada Jumat (13/3/2026). Sementara indeks dolar AS menguat 0,45% ke 100,18.





