Cerita Ibu Penjual Candil Untung Rp20 Ribu Tapi Sering Diutangin, Tak Sangka Bertemu Kang Dedi Mulyadi Diberi Uang

tvonenews.com
2 jam lalu
Cover Berita

tvOnenews.com - Kisah haru seorang ibu penjual candil di pinggir jalan menjadi perhatian publik setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Pertemuan tersebut terekam dalam sebuah video yang dibagikan melalui kanal YouTube milik Kang Dedi dan memperlihatkan percakapan sederhana yang menyentuh hati.

Dalam video tersebut, Kang Dedi Mulyadi terlihat menghampiri seorang ibu yang sedang berjualan candil di pinggir jalan.

Ia kemudian mengajak berbincang santai untuk mengetahui bagaimana kondisi kehidupan sang penjual.

“Ibu jualan apa?” tanya Dedi Mulyadi membuka percakapan.

“Jualan candil, tinggal sedikit,” jawab ibu tersebut dengan ramah.

Percakapan kemudian berlanjut dengan cerita mengenai asal-usul sang ibu.

Ia mengaku berasal dari Malangbong, Garut, namun kini berjualan di wilayah Bandung Barat.

Ibu penjual candil tersebut menjelaskan bahwa dirinya merantau untuk mencari nafkah. Ia mengaku tidak memiliki keluarga di tempat ia berjualan saat ini.

“Kalau aslinya saya dari Malangbong, Garut,” katanya.

Saat ditanya tinggal bersama siapa, ibu tersebut mengaku hanya menumpang tinggal di rumah orang lain.

Ia membantu pekerjaan rumah sebagai bentuk balas budi karena tidak membayar tempat tinggal.

“Saya numpang di Pak Nana. Tidak bayar, tapi saya membantu menyapu, membersihkan, dan membantu mengambil dagangan,” jelasnya.

Ia juga menceritakan bahwa dirinya memiliki anak perempuan. Namun sang anak kini tinggal bersama suaminya di rumah mertua.

Karena kondisi tersebut, ia merasa tidak enak jika harus tinggal bersama anaknya.

“Anak saya perempuan tinggal di rumah mertuanya. Belum punya rumah sendiri, suaminya hanya montir,” ujarnya.

Dalam percakapan tersebut, Kang Dedi Mulyadi juga menanyakan mengenai penghasilan sang ibu dari berjualan candil.

Ternyata keuntungan yang diperoleh sangat kecil.

“Dari sana harganya Rp7.000, saya jual Rp8.000. Jadi untung Rp1.000,” jelasnya.

Jika dagangannya terjual sekitar 20 porsi dalam sehari, keuntungan yang didapat hanya sekitar Rp20 ribu.

“Paling sekitar Rp20.000 sehari,” katanya.

Uang tersebut biasanya digunakan untuk membeli makanan. Ia bahkan mengaku tidak memiliki tempat untuk memasak.

“Untuk makan. Kadang beli nasi Rp10.000,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selewengkan BBM subsidi jatah petani, SPBU di Jember ditutup
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Borussia Moenchengladbach vs St Pauli: Gladbach Menang, Kevin Diks Solid
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kota Kediri Peringati 157 Tahun Jembatan Lama, Ikon Sejarah di Tepian Brantas
• 1 jam lalurealita.co
thumb
Truk Tabrak Truk Parkir di Jalur Pantura Situbondo: Sopir Kritis, Kernet Tewas
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
BRIN Temukan Spesies Tanaman Baru di Sumut, Mirip Lidah Kucing
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.