Bisnis.com, SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) siap memperkuat investasi sektor industri padat karya guna mendukung upaya pengentasan kemiskinan dan pengurangan angka pengangguran.
Langkah strategis ini mencakup penguatan iklim investasi, jaminan keamanan hukum, hingga penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif melalui program pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmen bersama antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menjadi garda terdepan dalam pemasaran wilayah.
"Kami dengan para bupati, wali kota juga bersepakat untuk menjadi manager marketing untuk wilayah kita. Saya yakin Jawa Tengah menjadi gudangnya investasi," jelasnya, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, total realisasi investasi pada periode Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai Rp88,50 triliun. Angka ini mencerminkan kepercayaan investor yang tinggi terhadap stabilitas ekonomi di Jawa Tengah.
Komposisi capaian tersebut didominasi oleh penanaman modal asing (PMA) yang memberikan kontribusi sebesar Rp50,86 triliun. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang angka sebesar Rp37,64 triliun. Sinergi antara modal asing dan domestik ini berhasil menggerakkan 105.078 proyek aktif di seluruh penjuru Jawa Tengah, yang secara langsung berdampak pada sektor riil.
Baca Juga
- Bank Mandiri Jateng-DIY Sediakan Uang Tunai Rp1,4 Triliun Sambut Pemudik
- Bank Jateng Cabang Yogyakarta Sediakan Fasilitas Kredit untuk Polda DIY
- Jateng Alokasikan Rp6 M untuk THR 13.077 PPPK Paruh Waktu
Masifnya aliran investasi tersebut ikut terasa pada aspek penyerapan tenaga kerja. Tercatat, 418.139 orang tenaga kerja berhasil diserap.
Luthfi mengakui bahwa keberlanjutan investasi sangat bergantung pada ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai standar industri. Oleh karena itu, kebijakan link and match terus digenjot untuk menyelaraskan kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan nyata di lapangan. Hal ini memastikan lulusan lokal memiliki daya saing tinggi dan siap diserap oleh industri besar.
"Kami berkomitmen menjadi manager marketing investasi yang menjamin kepastian hukum, keamanan, dan kemudahan berusaha. Investor harus merasa nyaman menanamkan modalnya di Jawa Tengah," tegas Luthfi.
Pemerintah akan terus menjadi mitra strategis bagi para pelaku usaha guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Selain fokus pada aspek industri, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memperhatikan aspek kesejahteraan dan produktivitas pekerja melalui efisiensi biaya hidup. Dukungan nyata diberikan melalui penyediaan fasilitas transportasi Trans Jateng dengan tarif khusus Rp1.000, pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di sekitar kawasan industri, hingga penyediaan fasilitas daycare bagi pekerja yang memiliki anak.
Rangkaian strategi itu mulai membuahkan hasil. Pada periode September 2025, persentase penduduk miskin di Jawa Tengah menyusut ke angka 9,39%, atau turun dibandingkan periode Maret 2025 yang berada pada level 9,48%.
"Kami membuka pintu seluas-luasnya bagi para investor dengan memberikan kemudahan layanan perizinan dan pendampingan investasi. Fokus utama kami adalah memastikan setiap investasi yang masuk dapat memberikan dampak langsung pada peningkatan taraf hidup masyarakat melalui ketersediaan lapangan kerja yang layak," kata Luthfi.





