Irak, VIVA –Kelompok Perlawanan Islam di Irak yang diketahui didukung Iran mendadak menjadi sorotan. Hal ini terjadi setelah mereka merilis pesan di Telegram pada Jumat lalu. Dalam pesan tersebut, kelompok itu menawarkan hadiah bagi siapa pun yang memberikan informasi akurat untuk membantu mereka menangkap pejabat tinggi militer Amerika Serikat maupun pimpinan senior dari badan intelijen AS.
Dalam unggahan di kanal Telegram mereka, milisi tersebut menawarkan imbalan sebesar 150 juta dinar Irak atau setara Rp 1,9 miliar bagi mereka yang bisa memberikan informasi tersebut. Sayembara ini terbuka untuk siapa saja, baik warga lokal maupun orang asing.
“Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pengetatan tekanan terhadap pasukan Amerika di lapangan telah membuat pilihan keamanan mereka semakin terbatas. Tekanan ini memengaruhi personel dari berbagai bidang baik di dalam militer AS maupun lembaga intelijen dan spionase lain yang beroperasi di Irak serta kawasan sekitarnya sehingga memaksa mereka berpindah ke lokasi alternatif (sipil) yang dianggap lebih aman. Oleh karena itu, kami mengumumkan penyediaan imbalan uang yang besar bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai target-target tersebut,” demikian bunyi pesan telegram tersebut seperti dikutip dari laman Newsweek, Minggu 15 Maret 2026.
Selama ini, berbagai milisi di kawasan Timur Tengah memang kerap menargetkan instalasi dan aset milik Amerika Serikat. Namun, tawaran hadiah ini menandai peningkatan tajam dalam ambisi dan operasi Perlawanan Islam di Irak, yang berupaya mengganggu operasi serta memecah konsentrasi pasukan Amerika di kawasan tersebut.
Menurut unggahan tersebut, hadiah yang ditawarkan sekitar 150 juta dinar Irak setara Rp 1,9 miliar akan diberikan kepada siapa pun yang menyampaikan informasi akurat dan dapat ditindaklanjuti hingga berujung pada tewasnya pejabat tinggi militer AS atau pimpinan senior di badan intelijen.
Kelompok itu juga menjanjikan kerahasiaan bagi pemberi informasi, termasuk perlindungan identitas mereka.
Belum jelas siapa tepatnya yang mengeluarkan seruan tersebut, karena nama Perlawanan Islam di Irak merupakan istilah payung bagi berbagai milisi yang didukung Iran di Irak dan berfokus menargetkan pasukan Amerika. Gerakan ini sebagian besar muncul setelah pecahnya perang Israel-Hamas pada Oktober 2023, ketika kelompok-kelompok bersenjjata di Irak mulai menyerang target Amerika di Irak dan Suriah, sebelum kemudian meluas ke wilayah lain.





