Tiga Syarat ini yang Diajukan Presiden Iran Agar Perang Berakhir Dinilai Mustahil dan Tidak Masuk Akal

wartaekonomi.co.id
12 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah harus mau menerima tiga prasyarat utama, yakni pengakuan atas hak-hak sah Iran, pembayaran reparasi, serta jaminan internasional yang tegas terhadap kemungkinan agresi di masa depan.

Beberapa pakar internasional justru menilai ketiga prasyarat tersebut sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat. Apa alasannya?

Pengakuan Hak-hak Sah Iran

Direktur Eksekutif Forum Timur Tengah di Kairo, Abdel Mohdy Motawe, mengatakan tuntutan tersebut hampir mustahil diterima oleh Amerika Serikat dan Israel.

Menurut dia, pengakuan atas hak-hak Iran secara tidak langsung berarti menerima program nuklir negara tersebut.

"Menerima ketentuan itu berarti mengakui hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium dan melanjutkan pengembangan infrastruktur nuklirnya," kata Motawe.

Pandangan serupa disampaikan profesor politik di Universitas Tikrit, Irak, Jumaa Mohammed. Ia menilai kesepakatan sulit dicapai karena perbedaan tafsir antara Iran dan para lawannya.

Menurut Mohammed, Iran memandang tuntutan tersebut sebagai pengakuan atas perannya di kawasan, haknya untuk mengembangkan kemampuan pertahanan, serta program nuklir yang diklaim bersifat damai.

Sebaliknya, AS dan Israel menilai hal itu berpotensi melegitimasi aktivitas yang mereka anggap mengancam stabilitas kawasan, seperti pengembangan rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok bersenjata.

Pembayaran Reparasi

Peneliti ilmu politik asal Arab Saudi di Universitas Imam Mohammad bin Saud, Khaled Al-Qahtani, menyatakan bahwa isu reparasi sangat rumit karena berkaitan dengan dinamika politik internasional.

Ia menjelaskan bahwa perpecahan politik di tingkat global serta kemungkinan penggunaan hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat menghambat tercapainya kesepakatan mengenai mekanisme kompensasi.

"Bahkan jika dibahas, prosesnya bisa memakan waktu bertahun-tahun karena negosiasi dan sengketa hukum," kata Al-Qahtani.

Sementara itu, analis politik dari Gaza, Mustafa Ibrahim, menilai tuntutan reparasi juga tidak realistis karena mengharuskan AS dan Israel mengakui kesalahan dalam perang.

Menurut dia, tuntutan tersebut lebih menyerupai strategi tawar-menawar politik untuk memperkuat posisi Iran dalam negosiasi.

Jaminan Internasional Terhadap Agresi

Menurut Ibrahim, jaminan internasional untuk mencegah agresi di masa depan juga sulit diterapkan karena rendahnya tingkat kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat konflik.

Ia menilai pengalaman konflik di kawasan Timur Tengah menunjukkan bahwa jaminan internasional sering kali tidak cukup untuk mencegah konflik baru jika akar ketegangan geopolitik belum terselesaikan.

Analis politik Yordania, Amer Sabaileh, menilai AS dan Israel menginginkan perubahan besar di Iran sehingga kecil kemungkinan mereka menerima prasyarat yang diajukan Teheran.

Sementara itu, mantan penasihat politik Perdana Menteri Lebanon Salim al-Hoss, Refaat Badawi, mengatakan hasil akhir konflik kemungkinan akan ditentukan di medan perang, bukan melalui negosiasi yang didasarkan pada tuntutan saat ini.

Ia memperkirakan konfrontasi antara pihak-pihak yang bertikai justru akan meningkat dalam waktu dekat karena situasi dinilai telah mencapai titik tanpa jalan kembali.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
7.000 Pemudik Tercatat di Terminal Guntur Garut
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Para Stafsus Wapres Kecam Penyiraman Air Keras Andrie Yunus KontraS
• 3 jam lalukompas.com
thumb
ESDM, Pertamina dan BPH Migas Tinjau Keandalan Energi Jelang Idulfitri
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Amankan Idul Fitri, 6.812 Personel Disiagakan di 1.647 Lokasi di Jadetabek
• 23 jam laludetik.com
thumb
Sahur Tak Lagi Sekadar Makan, Ternyata Aktivitas Digital Ikut Naik Lho!
• 6 jam laluherstory.co.id
Berhasil disimpan.