REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Di sebuah rumah sederhana di Solo, Jawa Tengah, aroma beras ketan yang dikukus pernah menjadi saksi awal perjalanan usaha yang tidak direncanakan. Dari dapur itulah jenama Rengginan Chandra Dewi tumbuh. Bisnis itu berawal dari ikhtiar pasangan suami istri yang ingin menata hidup sambil menunggu hadirnya buah hati.
“Usaha ini sebenarnya tidak sengaja,” kata pemilik Rengginan Chandra Dewi, Yudha Anugrah, kepada Republika, Sabtu (14/3/2026).
- Kapan Penerapan One Way di Jalur Mudik Diberlakukan? Ini Kriterianya
- Hari Kedua Operasi Ketupat 2026, Korlantas Catat Kecelakaan Mudik Naik
- Diskon Tarif Tol saat Mudik Lebaran 2026 di Rute Trans Jawa
Yudha mengenang, pada awal 2000-an ia dan istrinya sama-sama bekerja di sektor swasta. Setelah menikah pada 2000, keduanya sempat menunggu cukup lama untuk mendapatkan momongan. Ketika memutuskan menjalani program kehamilan, pasangan itu sepakat salah satu harus berhenti bekerja agar lebih fokus pada keluarga.
Pada 2007, istrinya memilih berhenti bekerja. Melihat putrinya hanya berdiam diri di rumah, mertua Yudha menawarkan ide sederhana yakni membuat rengginang, makanan tradisional dari beras ketan yang biasa disajikan saat hajatan atau hari raya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Awalnya, usaha itu hanya sebatas belajar membuat rengginang. Sang ibu mertua mengajarkan resep keluarga sekaligus teknik produksi yang selama ini ia lakukan dalam skala kecil.
“Dulu ibu saya hanya bikin sedikit, paling delapan kilo sehari. Kalau laku dijual ya dijual, kalau tidak ya sudah,” ujar Yudha.
Rengginang itu dibuat di rumah lalu dibawa ke Pasar Legi, pasar induk di Solo yang menjadi pusat distribusi hasil bumi. Polanya sederhana yakni produksi di rumah, kemudian dijual ke pasar.
Namun perjalanan usaha tidak selalu mulus. Dalam beberapa bulan pertama, stok rengginan sering menumpuk karena tidak cepat terjual.
Kondisi itu justru menjadi titik belajar pertama bagi Yudha dan istrinya. Ia kemudian mengusulkan perubahan sederhana, yaitu mengecilkan ukuran kemasan agar lebih terjangkau bagi pembeli. Ide itu ternyata berhasil membuka pasar baru.
“Masalah itu sebenarnya ilmu. Ketika stok menumpuk, kita cari solusi. Dari situ muncul ide membuat kemasan kecil,” kata Yudha.
Perubahan berikutnya datang sekitar 2009. Saat itu Yudha mencoba menjual rengginang matang yang sudah digoreng ke sebuah toko oleh-oleh terkenal di Solo. Awalnya ia mengirim produk dalam jumlah besar tanpa kemasan kecil.
Pemilik toko kemudian menyarankan agar rengginang dikemas dalam ukuran kecil agar lebih mudah dijual kepada wisatawan. Saran tersebut mendorong Yudha mulai belajar tentang kemasan. Ia membeli plastik standing pouch dan menempelkan stiker sederhana sebagai label produk. Meski masih sangat sederhana, kemasan itu menjadi langkah penting dalam perjalanan bisnisnya.
Tahun 2011 menjadi titik balik berikutnya. Yudha memutuskan keluar dari pekerjaannya dan fokus penuh mengembangkan usaha rengginan keluarga tersebut. Ia kemudian berkeliling menawarkan produk ke berbagai toko oleh-oleh di Solo. Strateginya sederhana dengan mendatangi satu toko, lalu toko berikutnya, hingga produknya mulai dikenal.
Permintaan perlahan meningkat, terutama menjelang Lebaran. Namun pertumbuhan itu juga menghadirkan tantangan baru, terutama pada pasokan kemasan yang sering langka karena dimonopoli oleh pemasok plastik.
Masalah tersebut akhirnya mendorong Yudha mencari solusi kemasan baru yang lebih stabil. Pada 2019, ia mendapatkan dukungan dari PT Pertamina (Persero) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility / CSR). Melalui program tersebut, Pertamina membantu pembiayaan pengembangan kemasan produk agar lebih profesional dan stabil dari sisi pasokan.
Dengan dukungan tersebut, Yudha dapat memesan kemasan khusus yang lebih modern dan transparan sehingga produk di dalamnya terlihat jelas. Desain kemasan baru itu terbukti membawa perubahan besar pada pemasaran produk.
“Setelah kemasan berubah, justru reseller yang datang sendiri ke rumah,” kata Yudha.
Para reseller tersebut menemukan produk Rengginan Chandra Dewi di toko oleh-oleh, kemudian mencari produsen langsung ke Solo. Dari situlah jaringan distribusi mulai meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Kini produk rengginang itu dipasarkan di berbagai wilayah, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sulawesi dan Kalimantan. Bahkan melalui sistem maklon, produk diproduksi oleh Yudha tetapi menggunakan merek lain, rengginang tersebut telah dikirim ke pasar internasional seperti Korea Selatan dan Belanda.
Selain pasar oleh-oleh, produk mentah juga dipasarkan ke pasar tradisional di berbagai kota seperti Sragen, Sukoharjo, hingga Yogyakarta.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, usaha rumahan ini kini mempekerjakan sekitar empat hingga enam pekerja dari lingkungan sekitar. Produksi rata-rata mencapai 30 kilogram rengginan mentah per hari dan meningkat hingga sekitar 50 kilogram menjelang Lebaran. Dalam sebulan, kebutuhan bahan baku beras ketan bisa mencapai satu ton.
Yudha menegaskan kualitas bahan menjadi kunci utama produknya. Ia menggunakan beras ketan premium agar rasa gurih alami tetap terjaga.
“Rengginang itu sebenarnya sederhana, hanya dari beras ketan. Tapi kalau bahannya bagus, rasanya berbeda,” ujarnya.
Seiring perkembangan usaha, variasi produk juga bertambah. Selain rasa original, kini tersedia varian manis, terasi, dan pedas yang diluncurkan pada 2026.
Meski demikian, dinamika UMKM tetap menjadi tantangan tersendiri. Salah satu kendala terbesar adalah sumber daya manusia. Sebagai usaha kecil yang merekrut pekerja dari lingkungan sekitar tanpa sistem rekrutmen formal, ketersediaan tenaga kerja sering tidak menentu ketika permintaan meningkat.
Karena itu, strategi utama yang ia lakukan adalah menyiapkan stok lebih banyak ketika musim permintaan tinggi seperti Lebaran. Di tengah berbagai tantangan tersebut, Yudha tetap optimistis terhadap masa depan UMKM di Indonesia. Menurut dia, peluang pasar sebenarnya masih sangat luas selama pelaku usaha mau terus mencoba membuka pasar baru.
“Kalau satu toko oleh-oleh sudah masuk, coba toko lain. Kalau satu kota sudah penuh, coba kota lain. Kalau dalam negeri penuh, coba ke luar negeri,” ujarnya.
Perjalanan Rengginan Chandra Dewi menjadi contoh bagaimana usaha kecil dapat tumbuh dari dapur rumah hingga menjangkau pasar nasional. Sebuah perjalanan yang dimulai dari resep keluarga, ketekunan menghadapi masalah, dan keberanian mencoba peluang baru.
A post shared by Republika Online (@republikaonline)




