Jakarta, CNBC Indonesia- Harga perak menutup pekan perdagangan dengan tekanan tajam. Logam ini turun mendekati level US$80 per troy ounce pada akhir pekan. Penurunan berlangsung cepat setelah rangkaian tekanan makroekonomi mengubah arah sentimen investor di pasar logam mulia.
Melansir Refinitiv tren penurunan terlihat konsisten sepanjang pekan. Pada 10 Maret 2026 harga perak berada di level US$ 88,39. Dua hari kemudian turun menjadi us$83,91. Perdagangan Jumat 13 Maret ditutup di US$80,55. Dalam lima hari perdagangan, pelemahan mencapai lebih dari 8%.
Pergerakan tersebut menghapus kenaikan yang sempat terjadi pada awal Maret.
Trading Economics memperlihatkan tekanan tersebut juga tercermin dalam kinerja mingguan.
Harga perak tercatat di US$80,535 per troy ounce pada 13 Maret. Penurunan harian mencapai 3,92%, sementara kinerja mingguan tercatat minus 4,50%. Logam ini masih mencatat kenaikan 13,02% sejak awal tahun dan melonjak 138,47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rekor tertinggi tercapai pada Januari 2026 di level US$121,64 per troy ounce.
Pelemahan perak terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Trading Economics melaporkan investor kembali memburu dolar setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan terbesar terhadap target Iran menyusul blokade Selat Hormuz. Permintaan terhadap dolar meningkat karena pasar mencari aset yang dianggap lebih aman dalam kondisi ketidakpastian global.
Kondisi tersebut mengubah posisi logam mulia di pasar keuangan. Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat memudar. Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel meningkatkan risiko inflasi. Tekanan harga energi berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Perubahan ekspektasi kebijakan moneter tersebut memberi dampak langsung pada logam mulia. Aset seperti perak tidak menghasilkan bunga. Ketika suku bunga diperkirakan bertahan tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berimbal hasil seperti obligasi atau dolar.
Tekanan terhadap logam mulia juga tercermin pada pasar emas. Harga emas spot turun sekitar 0,5% pada Jumat dan mencatat penurunan mingguan lebih dari 2%. Penguatan dolar membuat harga logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Reuters mencatat pandangan analis yang menilai kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi faktor utama tekanan harga logam mulia.
Belanja konsumen Amerika Serikat yang masih kuat serta inflasi yang bertahan tinggi memperkuat pandangan bahwa bank sentral belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Tekanan yang sama merembet ke pasar logam industri. Reuters melaporkan platinum turun sekitar 4% sementara palladium melemah sekitar 2,5% pada perdagangan yang sama. Pergerakan ini memperlihatkan sentimen risiko yang lebih luas di pasar logam.
Perak masih mencatat kenaikan sepanjang tahun. Logam ini naik lebih dari 18% sejak awal 2026 meski tekanan terbaru menahan laju kenaikan tersebut. Pekan ini menjadi pengingat bahwa pasar logam mulia sangat sensitif terhadap perubahan arah dolar dan ekspektasi kebijakan moneter global.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Add as a preferredsource on Google




