JAKARTA, DISWAY.ID -- Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi pelebaran defisit imbas lonjakan harga minyak dunia.
Simulasi dibuat dengan asumsi konflik berlangsung selama lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan.
"Kalau kita mengambil beberapa asumsi perang, katakanlah 5 bulan, 6 bulan, dan 10 bulan dengan masing-masing kenaikan harga BBM Pak, yang sampai 107 kemudian 6 bulan, 107-nya 6 bulan kemudian menurun lagi. Kemudian yang 10 bulan itu menaik sampai 130 sampai akhir Desember 125. Nah pembelian kita di bulan Januari-Februari itu angkanya 64,41 dolar dan 68,79. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang 70," kata Airlangga dalam laporannya kepada Presiden Prabowo di Sidang Kabinet, Jumat, 13 Maret 2026.
BACA JUGA:Banggar DPR RI Minta Publik Tak Panik, Harga Minyak Masih di Bawah Asumsi APBN
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Naik, Purbaya Sebut APBN 2026 Masih Kuat
Namun, jika harga minyak meningkat dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah memperkirakan rata-rata harga minyak dapat naik hingga 90 dolar AS per barel dalam skenario tertentu.
Dalam skenario pertama, dengan harga minyak Indonesia crude price (ICP) di kisaran 86 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah sekitar Rp17.000 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi masih bisa dipertahankan di angka 5,3 persen. Namun, kondisi tersebut berpotensi mendorong defisit APBN menjadi sekitar 3,18 persen.
"Kemudian kalau skenario moderat kedua dengan harga minyaknya 97, kursnya 17.300, growth-nya di 5,2, surat berharga negaranya lebih tinggi lagi di 7,2 persen. Nah defisitnya itu mencapai 3,53 persen," imbuhnya.
Airlangga juga memaparkan skenario terburuk apabila harga minyak melonjak hingga 115 dolar AS per barel.
BACA JUGA:Misbakhun Minta Pemerintah Siapkan Skenario APBN Imbas Dinamika Harga Minyak Akibat Perang Iran-Israel-AS
BACA JUGA:Tahan Defisit APBN, Purbaya : Makanan MBG Aman, yang Dipangkas Hanya Belanja Tak Esensial
Dalam kondisi tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di sekitar Rp17.500 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5,2 persen.
Jika skenario tersebut terjadi, defisit APBN diperkirakan dapat mencapai sekitar 4,06 persen. Dengan demikian, defisit 3% tersebut sulit dipertahankan oleh pemerintah kecuali melakukan efisiensi.
“Dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan,” ujar Airlangga.




