Aktris Kirana Larasati baru saja mengukir sejarah di dunia technical diving Tanah Air. Kirana resmi meraih rekor MURI sebagai wanita pertama Indonesia yang berhasil mencapai kedalaman 127 meter di bawah permukaan laut.
Kirana menyebut, meski persiapannya matang, masih ada rasa was-was yang luar biasa sesaat sebelum menceburkan diri ke laut dalam.
"Di hari H-nya cukup lega, karena walaupun di persiapan sebelumnya saya latihan, di beberapa kali penyelaman, itu saya tetap merasa nervous di hari H. Karena banyak sekali variabel yang bisa salah, dan risikonya memang tinggi," ungkap Kirana Larasati dalam jumpa pers di Petogogan, Jakarta Selatan, Jumat (6/3).
Lokasi yang dipilih adalah Tulamben, Bali, area yang memang dikenal sebagai destinasi selam dunia. Kirana menyebut ini adalah kali pertama dirinya mencoba menembus batas kedalaman yang begitu drastis di perairan tersebut.
"Dan pada hari itu adalah hari pertama saya melakukan penyelaman yang sangat dalam di laut Tulamben, Bali, Indonesia. Jadi tentu saja nervous. Dan ketika selesai, saya leganya bukan main," lanjut Kirana.
Menariknya, capaian Kirana melampaui target awal yang ia tetapkan sendiri. Semula, ia hanya berencana menyentuh angka 125 meter. Namun, kondisi di bawah air memungkinkan untuk memberikan sedikit dorongan lebih hingga mencatatkan angka yang lebih fantastis.
"Saya tahu bahwa saya bisa mencapai rekor MURI, rekor di Indonesia, karena sebenarnya target saya mau 125 meter, ternyata sampai di bawah saya masih bisa push sedikit lagi menjadi 127 meter. Jadi lega, senang, dan bangga tentunya bisa kembali dengan selamat dan mencetak rekor," tutur Kirana.
Keputusan Kirana memilih Tulamben, Bali, bukan tanpa alasan. Selain faktor teknis, rasa nasionalisme ingin ia tunjukkan kepada dunia. Ia ingin membuktikan bahwa penyelam lokal mampu menaklukkan perairan sendiri dengan standar profesional.
"Saya selalu bawa bendera Indonesia kalau menyelam. Saya pakai patch bendera Indonesia di baju saya. Saya tentunya mau untuk mencatatkan rekor saya di negara saya sendiri yang sangat saya cintai ini," tegas Kirana.
Dari sisi teknis, Kirana memilih Bali berdasarkan riset mengenai ketersediaan fasilitas, mengingat technical diving di kedalaman 100 meter membutuhkan logistik yang sangat kompleks.
"Kenapa di Tulamben? Karena setelah riset Tulamben ini yang paling memungkinkan mendapatkan fasilitas atau dukungan peralatan yang saya butuhkan. Tulamben paling mudah, di Bali itu paling mudah aksesnya," ujar Kirana.
Berbagai TantanganUntuk mencapai rekornya, Kirana menaklukkan berbagai tantangan. Tantangan terbesar yang dihadapi Kirana adalah dinamika alam yang sulit ditebak.
Ia menjelaskan, menyelam di laut lepas sangat berbeda dengan di air tenang. Ada arus vertikal, baik arus naik maupun arus turun.
"Tantangannya itu alam ya, jadi yang namanya arus itu tidak hanya ke kanan atau ke kiri. Kalau di laut luas itu arusnya bisa arus naik atau arus turun. Nah itu yang bahayanya, itu yang sebenarnya saya cukup deg-degan tuh," ucap Kirana.
Untuk mengatasi hal itu, Kirana menggunakan bantuan teknologi berupa skuter air atau DPV (Diver Propulsion Vehicle).
"Tapi itu sudah ditanggulangi dengan pakai skuter air, dengan DPV (Diver Propulsion Vehicle). Nah yang terjadi ketika naik itu ada arus turun. Kan kita enggak bisa atur ya. Itu yang cukup bikin deg-degan. Ada teknis yang harus disiplin kita jalankan ketika mulai naik," tambah Kirana.
Kirana membawa lima tabung gas dengan komposisi campuran udara yang berbeda. Setiap tabung memiliki batas kedalaman yang tidak boleh dilanggar karena risiko keracunan gas.
"Tabung tersebut ada batas kedalaman. Jadi kalau saya sudah ganti tabung, saya tidak boleh melebihi batas kedalaman tabung tersebut. Karena kalau melebihi batas kedalaman tabung, saya bisa keracunan dan bisa pingsan. Nah itu yang agak deg-degan di sini," tutur Kirana.
Bagi para penyelam, Kirana berpesan pentingnya perencanaan yang matang dalam setiap penyelaman teknikal.
"Persiapan harus matang. Saya sudah banyak plan, ada lima plan sebelum penyelaman. Dan betul, kejadian ada arus yang melawan ketika saya mau ke atas, arusnya melawan. Tapi untungnya saya bawa skuter itu jadi saya bisa tabraklah sedikit," tutup Kirana.





