Penulis: Octavian Dwi
TVRINews, Jakarta
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menekankan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak akan menggantikan kerja jurnalistik.
Hal ini ia sampaikan dalam diskusi bersama oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama DPR RI, dengan tajuk Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas. Pada Minggu, 15 Maret 2026 di Jakarta Barat.
Hetifah menuturkan bahwa AI dapat berperan sebagai alat bantu (tools), yang tentunya didalam kendali tangan manusia pada ruang redaksi.
"Perlu ditegaskan bahwa AI keberadaan di ruang redaksi bukan untuk menggantikan jurnalis. AI seharusnya bisa berperan sebagai Co-Pilot atau membantu kita dalam memproses kerja-kerja jurnalistik kita, dan membantu newsroom dalam berbagai hal, baik itu menganalisis dokumen, analisis percakapan publik, deteks informasi, otomatisasi produksi berita, dan juga visualisasi data dan informasi," ucap Hetifah.
Anggota DPR RI dapil Kalimantan Timur tersebut juga menyoroti hasil survei yang ia temukan, bahwa para jurnalis tidak menganggap AI sebagai ancaman.
"Survei terhadap jurnalis di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina menunjukkan bahwa angka tingkat familiaritas AI sudah mencapai sangat tinggi 95 persen, walaupun yang betul-betul menggunakannya dalam kerja jurnalistik sebesar 75 persen, dan 84 persen menilai AI membawa dampak positif terhadap pekerjaan mereka," lanjutnya.
Menurutnya, tantangan yang saat ini dihadapi adalah bagaimana prinsip dasar jurnalisme tetap dipegang oleh para jurnalis.
"Tentu saja prinsip akurasi dan verifikasi berlapis tetap harus bisa dilakukan, kedalaman analisis, dan proses data dan bukti sebagai basis, dan yang terakhir kepentingan publik," bebernya.
Hetifah berpesan bahwa kerja jurnalisme adalah sebagai pelayan masyarakat, yang menyampaikan informasi relevan bagi publik dan membantu masyarakat memahami dampak-dampak dari setiap kebijakan yang berkontribusi dalam kehidupan demokrasi.
Editor: Redaksi TVRINews





