Kisah Anak di Gunung Kidul: Putus Sekolah demi Rawat Ibu Stroke

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Fendi, bocah Gunungkidul, DIY, harus merelakan pendidikannya berhenti demi merawat sang ibu yang sakit stroke dan gangguan saraf mata. Sudah tiga tahun ia tidak lagi bersekolah di tingkat sekolah dasar itu.

Ayah Fendi kondisinya juga tidak baik. Dia mengalami gangguan penglihatan sejak setahun terakhir.

Kondisi Fendi tersebut sempat viral di media sosial. Publik manaruh simpati dengan keadaannya.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, telah mengunjungi kediaman Fendi. Ia menegaskan pemerintah akan bertanggung jawab penuh secara terstruktur dan sistematis untuk menyelesaikan permasalahan keluarga tersebut.

"Untuk urusan pendidikan Fendi akan diselesaikan oleh Kemenag melalui pendekatan emosional yang baik, mengingat Fendi menempuh jenjang pendidikan di madrasah," kata Endah dalam keterangannya, Minggu (15/3).

Sementara itu, kakak Fendi yang bersekolah di SMP Negeri 2 Panggang menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan. "Anak-anak ini wajib untuk sekolah dan ditanggung oleh negara," ujar Endah.

Tidak hanya soal pendidikan, masalah kesehatan orang tua Fendi juga jadi perhatian. Dinas Kesehatan telah berkoordinasi untuk memeriksa hasil laboratorium orang tua Fendi.

Pemkab berencana menggandeng Rumah Sakit Mata Yap untuk melihat kemungkinan adanya intervensi medis, seperti operasi katarak atau glukoma. Hal ini dilakukan untuk memulihkan penglihatan kedua orang tua Fendi.

Pemberdayaan Ekonomi dan Jaminan Sosial

Untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarga, Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) telah diberi mandat untuk mendiskusikan modal usaha bagi putra pertama keluarga tersebut. Tujuannya agar sang kakak bisa bekerja di lingkungan Kabupaten Gunungkidul sehingga tetap bisa mengawasi dan merawat orang tuanya di sore hari.

"Pemerintah juga memastikan bahwa keluarga ini telah terintervensi bantuan sosial, termasuk PKH, BPNT, dan BPJS," tutur Endah.

Dalam kesempatan tersebut, Endah juga meminta seluruh warga, mulai dari tingkat RT hingga perangkat desa, untuk segera melaporkan jika menemukan kondisi serupa di lingkungannya.

Masyarakat diminta memanfaatkan kanal komunikasi resmi seperti "Lapor Bupati" agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu berita viral di media sosial.

"Kejadian seperti ini tidak usah dibiarkan sampai 3 tahun atau 1 bulan. Ini adalah kewajiban kita sebagai orang yang beriman untuk saling membantu," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fadia Arafiq Bantah Kena OTT: Saat Itu Tak Ada Transaksi
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Rismon Minta Maaf dan Sebut Ijazah Jokowi Asli, Roy Suryo: Kami Tak Berubah!
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Rumah Nia Daniaty Jadi Incaran Sita Aset, Kuasa Hukum: Itu Salah Alamat!
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Truk Tangki Tabrak Rumah di Sumedang, Warga Berebut Tumpahan Minyak Goreng
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Menteri Pariwisata Sebut Libur Lebaran Sebagai Momentum Wisata
• 10 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.