Menteri Energi AS Janji Perang Iran Selesai Hitungan Minggu Meski Tak Jamin Harga Minyak

wartaekonomi.co.id
12 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bukan Menteri Pertahanan maupun Menteri Luar Negeri, justru Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright yang akhirnya menjelaskan kapan perang AS-Israel dan Iran bakal berhenti. Pernyataan itu disampaikan dalam program This Week di ABC News pada Minggu, 15 Maret.

Perang antara AS dan Iran memang erat kaitannya dengan masalah energi. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, harga bensin di Amerika Serikat disebut telah naik sekitar 76 sen per galon atau sekitar Rp12.388.

Dalam wawancara tersebut, Wright menyampaikan perkiraan waktu berakhirnya perang ini, “Konflik ini pasti akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Bahkan bisa lebih cepat dari itu,” kata Wright kepada pembawa acara ABC News, Martha Raddatz.

Namun, ketika ditanya soal jaminan mengenai harga minyak, Wright belum bisa memastikan.

“Tidak ada jaminan dalam perang. Yang bisa saya jamin adalah situasinya akan jauh lebih buruk tanpa operasi militer ini,” ujarnya.

Sebelumnya, dikutip dari Fortune, Wright membela pandangan Donald Trump bahwa masyarakat Amerika saat ini harus menghadapi “rasa sakit jangka pendek” berupa kenaikan harga bahan bakar demi tujuan yang lebih besar.

“Ini adalah rasa sakit jangka pendek untuk mencapai kondisi yang jauh lebih baik,” kata Wright.

Menurut laporan The Hill, Trump pada Jumat mengatakan perang akan berakhir ketika ia “merasakannya di tulangnya”. Beberapa hari setelah serangan awal, ia juga sempat menyebut operasi militer dapat berlangsung sekitar empat hingga lima minggu atau bahkan lebih lama. 

Sementara itu, pasar energi sudah cukup bergejolak. Harga bensin di Amerika Serikat saat ini rata-rata mencapai 3,67 dolar per galon atau sekitar Rp59.821. Angka ini naik dari 2,93 dolar per galon atau sekitar Rp47.759 pada bulan lalu.

Wright berusaha meredam kekhawatiran dengan mengingatkan bahwa harga bensin saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi pada masa pemerintahan Biden, yang sempat mencapai 5 dolar per galon atau sekitar Rp81.500.

Baca Juga: Kim Jong Un Kirim Pesan Keras ke Korea Selatan dan Amerika Serikat

“Kami berharap tidak sampai ke titik itu kali ini. Namun setidaknya kenaikan harga bensin ini terjadi untuk sesuatu yang dapat mengubah situasi geopolitik,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kemungkinan harga mencapai 5 dolar per galon masih tetap ada.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sebelumnya berjanji akan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup. Militer Iran juga memperingatkan bahwa dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak mencapai 200 dolar per barel, atau sekitar Rp3.260.000.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Rekomendasi Mobil Keluarga Terbaik, Murah dan Mewah
• 28 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Cak Imin Minta Kader PKB Tak Terjerumus Korupsi Usai Bupati Cilacap Terjaring OTT KPK
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
TVRI ajak masyarakat nikmati Piala Dunia 2026 tanpa taruhan
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Posko Siaga Telkomsel Hadir Temani Perjalanan Mudik 2026
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Media Amerika Tak Habis Pikir Lihat Maarten Paes, Kiper Timnas Indonesia Itu Akhirnya Raih Kemenangan Perdana di Ajax
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.