Rupiah Hari Ini (16/3) Dibuka Melemah, Dibanderol Rp16.970 per Dolar AS

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Senin (16/3/2026). Kinerja lesu rupiah sejalan dengan sejumlah mata uang lain di Asia yang bergerak melemah pada pembukaan perdagangan awal pekan.

Melansir data Bloomberg pukul 09.18 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka terkoreksi 0,07% ke level Rp16.970. Sementara indeks yang mengukur kinerja Greenback turut bergerak melemah 0,11% ke level 100,25.

Selain rupiah, pelemahan juga dialami oleh baht Thailand yang terkoreksi 0,47%, rupee India melemah 0,28%, peso Filipina melemah 0,21%, dan dolar Taiwan terkoreksi 0,01%.

Sebaliknya, kinerja menguat dialami oleh yen Jepang yang naik 0,16%, dolar Hong Kong naik 0,01%, dolar Singapura naik 0,15%, won Korea menguat 0,07%, yuan China menguat 0,09%, dan ringgit Malaysia menguat 0,11%.

Diberitakan sebelumnya, Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan harga minyak telah melonjak setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup. 

Jalur air sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Baca Juga

  • Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 16 Maret 2026
  • Rupiah Makin Tertekan Akibat Perang, Ini Respons Menkeu Purbaya
  • Alarm Waspada Rupiah Tembus Rp17.200 saat Libur Panjang Nyepi dan Lebaran

"Para pelaku pasar dan analis khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi," katanya. 

Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir kali berada di sekitar US$100 per barel. 

Bank sentral, seperti Federal Reserve, mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar. 

Selain konflik Iran, investor juga memantau data inflasi AS minggu ini. Angka indeks harga konsumen pada Rabu menunjukkan inflasi sebagian besar tetap stabil pada bulan Februari dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angka tersebut tidak mencerminkan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak karena kampanye AS-Israel di Iran. 

Dari dalam negeri, pasar terus menyoroti beban pembayaran bunga utang membatasi ruang manuver pemerintah untuk mendorong ekonomi melalui akselerasi belanja negara.  

Risiko pembengkakan beban bunga utang semakin besar menyusul kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah, serta tensi panas geopolitik global yang berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara alias SBN. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panggung Budaya Lembur Kaheman Nagreg Hadirkan Hiburan Seni bagi Pemudik
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Catat! Bursa Saham Libur Lima Hari Jelang Nyepi dan Idulfitri 2026
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri Tinjau Arus Mudik Lebaran 2026 di Terminal Purabaya Sidoarjo, Penumpang Naik 30 Persen
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Menang Kategori Aktor Pendukung Terbaik, Sean Penn Raih Piala Oscar Ketiganya
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Minta Polisi Usut Tuntas Teror Air Keras terhadap Andrie Yunus
• 21 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.