Tekanan Jual Warnai Pembukaan Pasar, IHSG Merosot 1,78%

medcom.id
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada pembukaan perdagangan hari ini.
 
IHSG melemah setelah ekskalasi perang timur tengah yang masih belum menemui titik temu. 
IHSG melemah 1,78 persen dengan berada pada level 7008 pada pembukaan perdagangan Senin, 16 Maret 2026.
 
Pergerakan IHSG dihantui oleh laju saham-saham big cap yang berjatuhan pada pembukaan perdagangan ini. 
  Baca juga: IHSG Dibuka Melemah di Akhir Pekan, Tertekan Sentimen Global
Indeks unggulan seperti LQ45 dan JII jatuh 2 hingga 3 persen.  BBCA, BBRI, BMRI, ASII, ANTM dan TLKM jatuh pada pembukaan hari ini. Kemudian beberapa saham naik seperti UNTR, INDF, KLBF dan PGAS. 

Adapun sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG hari ini antara lain, dari dalam negeri, IHSG lanjutkan koreksi secara weekly 5,91%. Pelemahan IHSG didorong oleh aksi profit taking saham Blue Chip dan Konglomerasi. 
 
Indeks LQ45 tercatat melemah 6,15 persen, sementara IDX30 turun 4,45 persen dalam sepekan. Pelemahan ini dipicu oleh aksi keluar dana (outflow) investor asing yang masih berlangsung di pasar saham Indonesia, seiring dengan tekanan pada nilai tukar rupiah.
 
Berdasarkan data perdagangan, sejak awal tahun hingga 13 Maret 2026 investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp22,37 triliun di pasar reguler. Tekanan jual tersebut terutama terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps).
 
Salah satu yang paling terdampak adalah saham BBCA yang mencatatkan net sell investor asing sekitar Rp17 triliun secara year-to-date (ytd).
 
Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan. Kurs referensi JISDOR tercatat berada di level Rp16.934 per dolar AS pada 13 Maret 2026.
 
Tekanan eksternal turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi mengalami defisit lebih dari 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
 
Angka tersebut melampaui batas maksimum defisit yang diatur dalam undang-undang sebesar 3 persen dan lebih tinggi dari proyeksi awal pemerintah sebesar 2,68 persen dari PDB dalam outlook APBN 2026.
 
Potensi pelebaran defisit ini terutama dipicu oleh tekanan global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan beban fiskal. Namun demikian, opsi pelebaran defisit masih menunggu persetujuan presiden.
 
Defisit yang semakin besar juga berpotensi mendorong kenaikan suku bunga. Kondisi ini terjadi karena pemerintah harus bersaing dengan sektor swasta dalam mencari sumber pembiayaan untuk menutup kebutuhan pendanaan defisit.
 
Situasi tersebut berisiko menekan aktivitas investasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, serta memperbesar potensi arus keluar modal dari pasar keuangan domestik. Wall Street Memerah  Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup di zona merah pada akhir perdagangan pekan lalu. Pelemahan indeks terjadi di tengah kenaikan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran baru terhadap potensi lonjakan inflasi global.
 
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,26 persen ke level 46.558,47. Sementara itu S&P 500 melemah 0,61 persen ke posisi 6.632,19.
 
Kekhawatiran pasar dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis West Texas Intermediate crude oil naik sekitar 3,81 persen dan bertahan di level USD98,71 per barel. 
 
Sementara minyak Brent crude oil menguat 2,67 persen dan diperdagangkan di atas USD100 per barel, tepatnya USD103,14 per barel.
 
Kenaikan harga minyak tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, pada Kamis lalu menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat tekanan terhadap negara-negara yang dianggap sebagai musuh.
 
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi minyak global. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi menekan pasokan energi dunia dan mendorong harga minyak lebih tinggi.
 
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat mencoba meredam kekhawatiran pasar. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Jumat menyatakan bahwa Washington akan mengambil langkah untuk memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.
 
Menurutnya, Amerika Serikat siap menangani situasi tersebut sehingga penutupan jalur strategis itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan oleh pasar global.
 
Meski demikian, lonjakan harga energi tetap menjadi perhatian investor karena berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kondisi Terkini Andrie Yunus usai Disiram Air Keras, Komnas HAM Singgung Soal CCTV
• 1 jam laludisway.id
thumb
Rilis Tiga Lagu di Platform Streaming, Icen Eksplorasi Mandopop hingga Western Pop
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Perhatikan 3 Hal Ini saat Mudik Bersama Si Kecil
• 8 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Hasil Liga Inggris: MU Bekuk Aston Villa 3-1, Tottenham Curi Poin di Kandang Liverpool!
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Araghchi: Iran sambut baik inisiatif untuk akhiri konflik Timur Tengah
• 10 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.