Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mengklaim Iran sebenarnya ingin bernegosiasi untuk mengakhiri perang yang melibatkan ASdan Israel.
Namun, Trump menyatakan bahwa dirinya belum bersedia menyepakati perundingan tersebut karena syarat yang ditawarkan dinilai belum cukup menguntungkan.
“Saya tidak ingin membuat kesepakatan karena syaratnya belum cukup baik,” kata Trump dalam wawancara telepon dengan NBC News yang dikutip kantor berita Sputnik, Senin (16/3/2026).
Baca Juga: Iran Tak Pernah Minta Gencatan Senjata, Tegaskan Siap Pertahankan Diri Selama Diperlukan
Ia menegaskan bahwa jika negosiasi dilakukan, maka kesepakatan yang dihasilkan harus benar-benar kuat dan menguntungkan AS. “Saya ingin kesepakatan yang sangat solid,” ujarnya.
Tapi, saat ditanya seperti apa syarat kesepakatan yang diinginkan, Trump menolak memberikan penjelasan lebih lanjut. “Saya tidak ingin mengatakan itu kepada Anda,” tambahnya.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga mengaku terkejut karena Iran merespons serangan gabungan AS dan Israel dengan menyerang sejumlah negara lain di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Trump mengklaim serangan militer AS terhadap Kharg Island milik Iran pada, Sabtu (14/3/2026), berhasil menghancurkan sebagian besar pulau tersebut.
“Serangan itu benar-benar menghancurkan sebagian besar pulau. Kami bahkan mungkin akan menyerangnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang,” kata Trump.
Trump juga mengungkapkan bahwa AS saat ini tengah bekerja sama dengan sejumlah negara untuk merancang rencana pengamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang menjadi rute utama pengiriman minyak global.
Langkah tersebut dilakukan di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran menegaskan Selat Hormuz tidak ditutup sepenuhnya. Ia menyatakan jalur tersebut hanya akan ditutup untuk AS-Israel dan sekutunya. (bil/iss)




