Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian Tekankan Artificial Intelligence Hanya sebagai Alat Bantu dalam Jurnalisme

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menegaskan bahwa penggunaan Akal Imitasi atau Artificial Intelligence dalam dunia jurnalistik harus diposisikan sebagai alat bantu kerja, bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Hetifah saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bersama para jurnalis di Jakarta pada Minggu (15/3/2026).

Diskusi tersebut mengangkat tema "Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas".

Kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hetifah menjelaskan bahwa berdasarkan survei di Asia Tenggara, sebanyak 95 persen jurnalis sudah familiar dengan penggunaan Artificial Intelligence dalam pekerjaan mereka.

Ia menegaskan bahwa teknologi tersebut seharusnya berfungsi sebagai co-pilot yang membantu kerja jurnalis dalam berbagai proses produksi berita.

Meski demikian, ia menekankan bahwa keputusan editorial, verifikasi fakta, serta pertimbangan etika harus tetap berada di bawah kendali jurnalis manusia.

Konsep Smart Journalism dalam Era Kecerdasan Buatan

Hetifah menyampaikan bahwa perkembangan Artificial Intelligence menunjukkan teknologi tersebut bukan lagi sekadar eksperimen.

Menurutnya, teknologi tersebut telah menjadi pintu masuk perubahan yang mulai menggeser peran tradisional media massa.

Perkembangan pesat kecerdasan buatan juga dinilai telah mengubah lanskap jurnalisme global.

Perubahan tersebut terjadi mulai dari proses produksi berita hingga cara masyarakat mengonsumsi informasi.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen Generasi Z kini menggunakan Artificial Intelligence untuk mencari informasi.

"Perubahan ekosistem ini membawa peluang besar bagi efisiensi ruang redaksi, di mana AI mampu melakukan tugas berat seperti analisis ribuan dokumen, transkripsi, hingga pengolahan data publik secara instan," ungkapnya.

Menurut Hetifah, integrasi teknologi tersebut melahirkan konsep smart journalism.

Konsep tersebut merupakan evolusi praktik jurnalistik yang menggabungkan kekuatan riset, data, serta kecerdasan buatan.

Dengan pendekatan tersebut, jurnalis diharapkan tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga mampu menyajikan pengetahuan kompleks dalam bentuk yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Ancaman Disinformasi dan Deepfake

Hetifah juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan membawa potensi ancaman serius bagi dunia informasi.

Salah satu ancaman tersebut adalah munculnya disinformasi dan konten manipulatif seperti teknologi deepfake.

Teknologi tersebut mampu menghasilkan audio dan visual yang sangat realistis sehingga berpotensi disalahgunakan untuk penipuan maupun manipulasi opini publik.

Ia juga menyoroti bahwa kecepatan arus informasi digital sering kali membuat media terjebak dalam persaingan untuk menjadi yang tercepat.

Menurutnya, kondisi tersebut terkadang menyebabkan akurasi berita sebagai pilar utama jurnalisme terabaikan.

"AI dapat membantu mempercepat proses kerja, namun integritas nurani dan tanggung jawab moral tetap tidak bisa didelegasikan kepada algoritma," tegas Hetifah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus dan Perburuan Pelakunya
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Kesatria Bengawan Solo Taklukkan RANS Simba Bogor 105-101 di IBL 2026
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Wamendagri Akhmad Wiyagus Tegaskan Musrenbang Kunci Perencanaan Pembangunan Daerah
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Aktivis KontraS Disiram Air Keras, Stafsus Wapres Gibran Angkat Bicara, Ada Kata Pengecut!
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
ASDP Terapkan Pola TBB Di Pelabuhan Ketapang Untuk Mengatasi Kepadatan Pemudik
• 8 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.