Dia mengatakan jurnalis di Indonesia, Thailand, Vietnam dan Filipina sudah sangat familiar dengan AI. "Jurnalis di Indonesia dan di negara-negara Asia Tenggara tingkat familiaritas terhadap AI sudah mencapai sangat tinggi yakni 95 persen," kata Hetifah dalam acara Smart Journalism, Minggu, 15 Maret 2026.
Bahkan, dalam survei tersebut, 75 persen jurnalis menyelesaikan tugas jurnalistiknya dengan bantuan AI. "75 persen yang betul-betul menggunakannya dalam pekerjaan jurnalistik dan 84 persen menilai AI memberikan dampak positif terhadap pekerjaan mereka," ungkap dia.
Karena itu, ia mengingatkan agar jurnalis tidak terjerumus pada penggunaan AI yang salah. Jurnalis harus mempunyai tiga modal utama bila ingin memanfaatkan AI.
"Di antaranya adalah literasi data, literasi AI, hingga kemampuan untuk melakukan verifikasi isu," papar dia.
Baca Juga :
Ketua Komisi X DPR RI Minta Pembatasan AI pada Pelajar Mesti dengan Aturan JelasMenurutnya, kemajuan teknologi memang menjadi disrupsi. Namun, prinsip jurnalistik harus tetap hidup.
"Teknologi boleh berubah, platform boleh berganti, prinsip dasar jurnalisme yang baik kan enggak boleh berubah ya. Tentu saja prinsip akurasi dan verifikasi berlapis tetap harus bisa dilakukan, kedalaman analisis dan konteks, data dan bukti sebagai basis, dan yang terakhir kepentingan publik," tegas dia.
Hetifah mengingatkan pekerjaan jurnalis tetap harus dikendalikan penuh oleh manusia. AI tak boleh menggantikan pekerjaan jurnalistik.
"Perlu ditegaskan bahwa keberadaan AI di ruang redaksi itu bukan untuk menggantikan jurnalis. AI seharusnya bisa berperan sebagai co-pilot atau alat bantu kita mempercepat proses kerja-kerja jurnalistik kita dan membantu newsroom dalam berbagai hal," kata Hetifah.
Hetifah menyampaikan saat ini AI memang telah menjadi gerbang baru bagi publik untuk memahami dunia. Penggunaannya juga mengubah hampir seluruh lantai kerja media, termasuk bagaimana media diproduksi, bagaimana berita didistribusikan, bagaimana juga berita dikonsumsi oleh publik.
"Nah tapi tetap keputusan editorial, verifikasi data, penilaian etika tentunya harus tetap berada di tangan manusia," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




