JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena orangtua yang melibatkan anak konten bareng di media sosial semakin sering ditemui dalam beberapa tahun terakhir.
Berbagai aktivitas keluarga, mulai dari keseharian hingga kegiatan kreatif, kini kerap dibagikan melalui platform digital seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube.
Bagi sebagian keluarga, konten tersebut menjadi cara untuk menyimpan kenangan sekaligus berbagi pengalaman dengan orang lain.
Namun di sisi lain, keterlibatan anak dalam ruang digital juga memunculkan berbagai pertanyaan terkait dampaknya terhadap perkembangan anak.
Psikolog anak Astrid Wen menilai bahwa keterlibatan anak dalam pembuatan konten media sosial tidak serta-merta menjadi masalah.
Menurut dia hal yang perlu diperhatikan justru bagaimana proses tersebut berlangsung.
Baca juga: Pembatasan Medsos hingga AI agar Anak-anak Tak Kena Brain Rot
Astrid menjelaskan bahwa pembuatan konten bersama anak sebaiknya dilihat dari proses yang terjadi di dalamnya, bukan hanya dari aktivitas merekam atau mengunggah video.
Ia menekankan bahwa interaksi antara orangtua dan anak selama proses pembuatan konten menjadi faktor yang sangat penting untuk diperhatikan.
“Misalnya interaksi yang terjadi dengan anak selama pembuatan konten, aspek keamanannya, aturan atau syarat dan ketentuan, serta apakah proses tersebut tetap melindungi kesejahteraan anak," kata Astrid kepada Kompas.com, Minggu (15/3/2026).
Menurut Astrid, keterlibatan anak dalam produksi konten sebenarnya memiliki kemiripan dengan anak yang terlibat dalam industri hiburan seperti film atau televisi.
Dalam dunia tersebut, biasanya terdapat aturan yang jelas untuk melindungi kesejahteraan anak.
Baca juga: Medsos Anak Dibatasi, Orangtua di Jatim Dukung Demi Kesehatan Mental dan Literasi Digital
Ia menilai prinsip perlindungan serupa juga sebaiknya dipertimbangkan dalam konteks konten media sosial.
“Biasanya ada prosedur perlindungan tertentu, termasuk consent dan pengaturan kerja yang memperhatikan kondisi psikologis serta kesejahteraan anak. Prinsip yang sama juga perlu dipertimbangkan dalam konteks konten media sosial," jelas dia.
Potensi Dampak Positif bagi AnakDi sisi lain, Astrid mengatakan bahwa pembuatan konten bersama anak juga dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan dengan pendekatan yang tepat.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dapat menjadi aktivitas bersama antara orangtua dan anak yang membantu mempererat hubungan sekaligus membuka kesempatan bagi anak untuk belajar hal baru.
“Pembuatan konten dapat dipandang sebagai sebuah aktivitas bersama. Jika anak menyukainya dan kegiatan ini membantu eksplorasi pengetahuan maupun pengalaman baru, maka dampaknya bisa positif," kata dia.
Selain itu, anak juga dapat merasakan berbagai pengalaman emosional yang menyenangkan selama proses tersebut berlangsung.
Baca juga: Psikolog Surabaya: Pembatasan Medsos untuk Jaga Pembentukan Identitas Anak
Menurut Astrid, kegiatan kreatif seperti membuat video, bercerita, atau melakukan aktivitas bersama di depan kamera dapat membantu anak mengembangkan kreativitas.
“Anak dapat merasakan emosi positif, mengembangkan kreativitas, dan menantikan pengalaman berikutnya," katanya.
Namun demikian, kondisi tersebut hanya dapat tercapai apabila kegiatan tersebut benar-benar sesuai dengan minat anak.
Risiko Jika Tidak Sesuai Minat AnakAstrid mengingatkan bahwa situasi dapat berubah apabila anak sebenarnya tidak tertarik dengan aktivitas pembuatan konten, tetapi tetap dilibatkan secara terus-menerus.
Dalam kondisi tersebut, anak berpotensi merasa terpaksa untuk mengikuti aktivitas yang bukan merupakan keinginannya.
“Namun jika kegiatan tersebut bukan minat anak, maka sangat mungkin menjadi sebuah keterpaksaan," ujar dia.
Jika hal tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama, anak dapat menunjukkan berbagai respons emosional yang negatif.
“Dalam kondisi tersebut anak dapat mengalami emosi negatif, menjadi tidak kooperatif, mengeluh, atau bahkan muncul konflik dengan orangtua," kata Astrid.
Baca juga: KemenPPPA Sarankan Anak di Bawah Umur Main Game Tradisional Usai Terkena Pembatasan Medsos
Astrid menilai bahwa hubungan antara orangtua dan anak bisa terdampak apabila kegiatan tersebut tidak lagi menjadi aktivitas yang menyenangkan.
“Jika berlangsung terus-menerus, pola interaksi yang kurang sehat antara anak dan orangtua dapat terbentuk," ujarnya.
Risiko Tekanan dan Paparan DigitalSelain faktor minat anak, Astrid juga menyoroti potensi risiko lain yang dapat muncul apabila kegiatan pembuatan konten terlalu sering dilakukan.
Menurut dia, situasi tersebut dapat terjadi ketika fokus kegiatan tidak lagi pada kebutuhan anak, melainkan pada produksi konten.
“Risiko yang mungkin muncul antara lain ketika kegiatan tersebut tidak lagi berpusat pada kebutuhan dan minat anak, tetapi lebih pada tuntutan produksi konten," kata dia.
Dalam kondisi tersebut, anak dapat mengalami tekanan psikologis karena harus mengikuti proses pembuatan konten secara terus-menerus.
“Dalam situasi ini anak bisa mengalami tekanan, kelelahan emosional, atau merasa hanya menjadi objek dalam proses tersebut," kata dia.
Baca juga: Urgensi Kehati-hatian Kebijakan Pembatasan Medsos bagi Anak-anak
Selain itu, Astrid juga menyoroti risiko yang berkaitan dengan paparan anak di ruang digital.
“Selain itu, paparan yang terlalu sering di ruang digital juga dapat menimbulkan risiko terkait privasi dan jejak digital anak di masa depan," ujarnya.
Menurut dia, informasi atau konten yang diunggah di internet dapat bertahan dalam waktu lama dan berpotensi memengaruhi kehidupan anak di masa depan.
Persetujuan Anak dan Ritme KegiatanAstrid juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan batas antara dokumentasi keluarga yang wajar dengan potensi eksploitasi anak.
Salah satu aspek penting adalah persetujuan atau consent dari anak.
“Apakah anak bersedia atau tidak. Pada anak yang masih sangat kecil dan belum mampu mengungkapkan persetujuan secara verbal, orangtua perlu melihat kapasitas perkembangannya," jelas dia.
Ia menambahkan bahwa orangtua perlu peka terhadap respons anak selama proses perekaman berlangsung.
“Misalnya bayi atau anak usia bermain yang tidak melihat kamera atau bergerak aktif merupakan hal yang wajar. Namun jika anak menunjukkan gestur keberatan direkam, sebaiknya proses perekaman dihentikan untuk memprioritaskan rasa aman dan kepercayaan anak," ujarnya.
Baca juga: Pembatasan Medsos Diharapkan Tidak Hanya untuk Anak di Bawah 16 Tahun



