Harga Pangan Jelang Lebaran Sulit Turun, Ternyata Ini Biang Keroknya

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga bahan pangan menjelang Lebaran dinilai tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ketersediaan barang, melainkan juga masalah distribusi hingga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan kebijakan pemerintah yang terlalu fokus pada ketersediaan pangan belum cukup untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

“Padahal, ketersediaan tidak banyak manfaatnya mana kala pangan tidak terdistribusi merata ke semua wilayah [bisa diakses secara fisik] dan tidak terjangkau daya beli warga [bisa diakses secara ekonomi]. Akhirnya ketersediaan berhenti di ketersediaan,” kata Khudori kepada Bisnis, Senin (16/3/2026).

Menurutnya, persoalan distribusi menjadi semakin krusial karena sebagian besar komoditas pangan memiliki pola panen musiman dan hanya terkonsentrasi di beberapa wilayah produksi. Kondisi tersebut membuat distribusi menjadi faktor penting untuk memastikan pasokan dapat tersebar merata ke berbagai daerah.

Untuk itu, menurutnya, ketersediaan stok atau cadangan pangan serta dukungan sistem logistik yang andal sangat diperlukan agar pemerintah dapat melakukan intervensi ketika mekanisme pasar tidak berjalan dengan baik.

Dia menilai masalah lain terletak pada keterbatasan cadangan pangan pemerintah. Saat ini, cadangan yang relatif memadai hanya terdapat pada komoditas beras, sementara komoditas pangan lainnya tidak memiliki cadangan yang cukup untuk menstabilkan harga ketika terjadi gejolak pasar.

Baca Juga

  • H-4 Lebaran, Tekanan Harga Pangan di Pasar Cirebon Mulai Terasa
  • Jelang Lebaran, Bapanas Minta Pelaku Usaha Tidak Naikkan Harga Pangan
  • Harga Pangan hingga Komoditas Ramai-Ramai Naik Jelang Lebaran

“Masalahnya, ini faktor ketiga, cadangan yang mumpuni hanya ada pada beras. Komoditas lain tidak ada cadangannya. Jika pun ada, jumlanya kecil,” lanjutnya.

Di sisi lain, Khudori juga menilai regulasi harga pangan yang diterapkan pemerintah belum berjalan efektif. Hal itu terlihat dari masih banyaknya komoditas yang dijual di atas harga acuan maupun harga eceran tertinggi (HET).

Dia menambahkan, dari sisi hukum, pengaturan harga pangan sebenarnya memiliki keterbatasan karena merujuk pada Undang-Undang Pangan, aturan tersebut pada dasarnya hanya mengikat pemerintah dan tidak secara langsung mengikat pelaku usaha.

Sejumlah Komoditas Lampaui HET

Mengacu pada data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, Khudori menyebut kondisi harga pangan saat ini relatif tidak banyak berubah dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, sejumlah komoditas masih dijual di atas harga acuan maupun HET.

Dia mencontohkan harga beras medium secara nasional masih berada di atas HET. Sementara itu, beras premium di wilayah zona I masih berada di bawah HET, tetapi di zona II dan III sebagian besar sudah melampaui batas harga yang ditetapkan pemerintah.

Selain beras, sejumlah komoditas lain seperti Minyakita, gula konsumsi, telur ayam, daging ayam, dan kedelai juga tercatat berada di atas harga acuan. Bahkan, harga gula konsumsi telah berbulan-bulan berada di atas acuan pemerintah.

Di samping itu, Khudori menyebut harga daging kerbau juga sudah lama bertahan di atas acuan sejak 2017. Menurutnya, tingginya harga daging kerbau impor asal India jauh melampaui harga acuan pemerintah, terutama di wilayah zona II dan III. Dia menilai belum ada upaya serius dari pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut, sementara intervensi harga justru lebih banyak dilakukan pada komoditas daging sapi.

“Di sisi lain, pemerintah demikian intens mengintervensi harga daging sapi, bahkan sampai empat level. Ada diskriminasi luar biasa antara daging sapi dengan daging kerbau. Ini tak adil,” tegasnya.

Khudori menambahkan, secara historis tekanan harga pangan memang selalu meningkat selama Ramadan. Bahkan, dalam dua dekade terakhir, inflasi pada periode tersebut sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan.

“Selama 20 tahun terakhir inflasi di Ramadan selalu tinggi. Mayoritas inflasi itu disebabkan oleh harga-harga pangan [volatile food]. Ini menandakan berbagai upaya yang dilakukan belum membuahkan hasil sepadan,” tuturnya.

Untuk itu, dia menilai pemerintah perlu memperbaiki strategi stabilisasi harga pangan dengan tidak hanya berfokus pada ketersediaan barang, melainkan juga memastikan distribusi lancar serta harga tetap terjangkau bagi masyarakat hingga periode Lebaran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selain Wajah, Ini Bagian Tubuh Andrie Yunus yang Luka Bakar Usai Disiram Air Keras
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Guyub Rukun Sak Lawase Kota Batu Bagikan Takjil Penutup Ramadhan
• 28 menit lalurealita.co
thumb
Menhub Pastikan Arus Mudik Lebaran 2026 Masih Sesuai Prediksi
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Iran Siap Perang Panjang Lawan Amerika Serikat dan Israel, Apa Strateginya? Begini Perkembangannya
• 58 menit lalukompas.tv
thumb
Kerja Sama Energi Indo-Pasifik Dinilai Penting di Tengah Ketidakpastian Global
• 4 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.