Jakarta: Di sela deru mesin kereta dan riuh rendah suara pengumuman di Stasiun Pasar Senen, Yatin, 63, dan Irfan, 26, berdiri tegap memindai setiap wajah penumpang yang turun dari kendaraan. Ramadan 1447 Hijriah telah memasuki hari ke-26, saat di mana kerinduan akan kampung halaman mulai memuncak, namun bagi kedua pramuantar ini, setiap peluh yang jatuh adalah harapan untuk membawa "oleh-oleh" layak bagi keluarga di Jawa Tengah.
"Mesti ada orang yang tega. Pura-pura tidak tahu. Sudah bawa banyak barang, ya terima kasih saja," kata Irfan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, dilansir Antara, Senin, 16 Maret 2026.
Baca Juga :
Hashim Djojohadikusumo: Program 3 Juta Rumah Kunci Tekan TBC dan StuntingIrfan menceritakan getirnya profesi porter yang sering kali tak dihargai dengan rupiah, meski tenaga telah terkuras mengangkut koper-koper berat. Karena sistem kerja yang tidak mematok harga di awal, tak sedikit penumpang yang melenggang pergi hanya dengan ucapan terima kasih, atau bahkan tanpa sepatah kata pun.
Namun, pemuda asal Kebumen ini memilih mengikhlaskan, sebuah sikap yang juga diamini oleh Yatin, seniornya yang sudah merantau sejak 1982.
"Penumpang banyak, tapi tidak semua mau dibawakan barangnya," ujar Yatin.
Meski data PT KAI Daop 1 Jakarta mencatat keberangkatan penumpang dari Senen mencapai 23.259 orang pada Senin siang, 16 Maret 2026, kantong Yatin dan Irfan belum tentu menebal. Hari itu, masing-masing baru mendapatkan dua kali orderan.
Pendapatan mereka berkisar Rp130 ribu per hari. Angka yang harus diputar otak agar cukup untuk biaya hidup di Jakarta sekaligus modal mudik pada H-1 Lebaran mendatang.
Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Foto: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa.
Tak jauh dari mereka, Bayu, seorang pengemudi ojek pangkalan, merasakan kegelisahan yang sama. Hingga matahari meninggi, ia bahkan belum mendapatkan satu pun penumpang.
Bayu hanya bisa menatap barisan pengemudi ojek daring yang melintas, sambil berharap rezeki besar akan datang saat arus balik nanti, saat di mana ia biasanya bisa mengantongi tiga kali lipat dari penghasilan harian.
Di balik seragam mereka, tersimpan mimpi yang beragam. Irfan diam-diam masih memendam asa menjadi prajurit Angkatan Darat, sementara Yatin hanya ingin terus bekerja selama raga masih mampu.
Di Stasiun Pasar Senen, rupiah bukan sekadar angka, melainkan penyambung napas dan tiket untuk kembali bersimpuh di kaki orang tua saat Idulfitri tiba.
"Jalani dan syukuri. Selama masih kuat. Kalau sudah capek bisa berhenti," ujar Irfan.



