Bisnis.com, JAKARTA – Pasar Surat Berharga Negara (SBN) kian ditinggal oleh investor asing. Kombinasi defisit fiskal hingga ketegangan geopolitik di Iran, mendorong asing mengalihkan dananya ke instrumen investasi yang dinilai mampu memberikan pertumbuhan di tengah volatilitas pasar.
Alhasil, dana asing yang tercatat menggenggam SBN sebesar Rp879,93 triliun pada awal tahun, kini telah susut hingga tersisa Rp862,18 triliun per Kamis (12/3/2026). Artinya, terdapat outflow asing senilai Rp17,75 triliun sepanjang tahun ini.
Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kondisi ini jauh berbeda. Pada awal 2025, investor non-residen membukukan kepemilikan SBN senilai Rp876,44 triliun dan segera bertumbuh menjadi Rp899,59 triliun pada 12 Maret 2025. Pertumbuhan itu mencerminkan masuknya dana asing sebesar Rp23,15 triliun.
Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menerangkan bahwa salah satu sentimen dalam negeri yang membuat investor asing menarik dananya dari Tanah Air adalah ketakutan terhadap defisit fiskal APBN.
Bahkan, investor dinilai tidak hanya menyoroti ihwal defisit fiskal yang terjadi secara bulanan, tetapi juga upaya pemerintah dalam menjaga good governance fiskal. Namun, faktor risiko geopolitik turut memiliki andil terhadap kaburnya dana asing.
”Tapi setelahnya juga dengan kondisi geopolitik global yang lagi buruk, juga memperburuk keadaan ini ya, memperburuk kekhawatiran defisit fiskal tersebut. Jadi mungkin ini yang bikin kita juga harus hati-hati dalam melihat ini penyebabnya yang mana,” kata Fikri kepada Bisnis, Senin (16/3/2026).
Adapun kinerja APBN membukukan defisit sebesar Rp135,7 triliun per akhir Februari 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa defisit APBN tersebut setara dengan 0,53% dari produk domestik bruto (PDB).
Dibandingkan dengan periode yang sama 2025, defisit APBN pada Februari 2026 tampak naik cukup signifikan. Pada akhir Februari 2025, defisit APBN mencapai Rp30,7 triliun atau setara dengan 0,13% dari PDB.
”Kalau untuk SBN saat ini saya pikir dua-duanya. Tidak hanya defisit sebenarnya, tapi lebih kepada good governance fiskal kita atau mungkin kehati-hatian fiskal kita yang perlu disoroti sekarang,” katanya.
Di satu sisi, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi menilai bahwa kaburnya dana asing dari pasar SBN Tanah Air mencerminkan peningkatan risk aversion investor global.
Selain faktor geopolitik, investor juga disebut mempertimbangkan ketidakpastian arah suku bunga AS, kian menguatnya greenback, hingga risiko depresiasi rupiah yang dinilai dapat menggerus imbal hasil investasi di pasar SBN Tanah Air.
”Dalam situasi tersebut, sebagian investor global melakukan rebalancing portofolio ke aset yang lebih likuid dan aman. Jadi geopolitik memang berpengaruh, tetapi pergerakkan dana asing saat ini lebih dipicu oleh kombinasi faktor makro global dan risiko nilai tukar,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/3/2026).
Sementara terhadap kondisi defisit fiskal, Reza menilai bahwa investor asing cenderung melihat defisit APBN pada aspek kredibilitas pengelolaan fiskal jangka menengah. Artinya, selama defisit masih terjaga di bawah ambang batas, maka minat investor terhadap SBN masih dapat terjaga.
Hanya saja, ketika kebutuhan pembiayaan bergerak meningkat, pasar akan cenderung menuntut yield yang lebih tinggi untuk menyerap tambahan pasokan SBN.
”Artinya, dampaknya lebih terlihat pada biaya pembiayaan pemerintah daripada minat investor secara keseluruhan,” katanya.





