DPR Kritik Lambannya Pengusutan Teror Air Keras ke Aktivis KontraS

eranasional.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Sorotan terhadap penanganan kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis hak asasi manusia kembali menguat setelah anggota parlemen menyampaikan kritik terbuka terhadap aparat penegak hukum. Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, secara tegas mendesak aparat kepolisian untuk segera mengungkap pelaku penyerangan terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.

Menurut Rieke, tindakan kekerasan dengan menggunakan air keras merupakan bentuk kejahatan yang sangat brutal dan tidak dapat ditoleransi dalam negara yang menjunjung tinggi hukum serta hak asasi manusia. Ia menilai aparat kepolisian semestinya dapat bertindak cepat dalam menangkap pelaku, terutama karena sejumlah bukti visual seperti rekaman kamera pengawas atau CCTV disebut-sebut telah memperlihatkan sosok yang diduga sebagai pelaku di lokasi kejadian.

Rieke menyampaikan pandangannya melalui unggahan di akun media sosial pribadinya. Dalam pernyataannya, ia mempertanyakan lambatnya proses pengungkapan kasus tersebut, terlebih ketika wajah yang diduga sebagai pelaku disebut telah beredar luas di berbagai platform media sosial.

Ia menilai bahwa apabila bukti visual sudah tersedia, maka aparat penegak hukum seharusnya memiliki dasar yang cukup untuk mempercepat proses identifikasi dan penangkapan. Kritik tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa keterlambatan penanganan dapat menimbulkan kesan seolah-olah kasus kekerasan terhadap aktivis tidak ditangani secara serius.

Dalam pernyataannya, Rieke juga mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah memberikan instruksi langsung kepada Kapolri Listyo Sigit Prabowo agar kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS tersebut diusut secara tuntas. Ia menilai perintah tersebut seharusnya menjadi dasar bagi aparat kepolisian untuk bekerja secara maksimal tanpa keraguan dalam menegakkan hukum.

Sebagai anggota legislatif, Rieke menegaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan kepastian hukum dan rasa aman. Oleh karena itu, proses penyelidikan yang transparan dan cepat sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.

Rieke juga menyinggung kemungkinan adanya pihak lain di balik aksi kekerasan tersebut. Ia menilai penting bagi aparat kepolisian untuk tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap kemungkinan adanya aktor intelektual atau pihak yang memerintahkan penyerangan tersebut.

Selain menyoroti kasus penyerangan terhadap aktivis KontraS, Rieke turut mengangkat kasus lain yang menurutnya juga perlu mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum. Ia menyinggung kasus pembunuhan seorang warga bernama Ermanto yang terjadi di wilayah Bekasi. Menurutnya, kedua kasus tersebut perlu diusut secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kesan bahwa penanganan perkara dilakukan secara setengah hati.

Rieke juga menyoroti kemampuan teknologi yang dimiliki aparat kepolisian saat ini. Ia menilai dengan kemajuan teknologi investigasi modern, aparat penegak hukum seharusnya mampu mengungkap pelaku maupun dalang di balik kejahatan tersebut.

Menurutnya, kegagalan mengungkap kasus kekerasan semacam ini dapat menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat mengenai kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha menutupi fakta sebenarnya. Ia pun mengingatkan bahwa tindakan kekerasan terhadap aktivis tidak hanya menyasar individu tertentu, tetapi juga dapat menjadi ancaman terhadap kebebasan sipil dan demokrasi.

Rieke secara tegas mengecam tindakan penyiraman air keras tersebut. Ia menyebut aksi tersebut sebagai tindakan yang keji dan tidak manusiawi karena dapat menyebabkan luka permanen serta trauma mendalam bagi korban.

Ia juga mengingatkan bahwa situasi sosial dan ekonomi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai tantangan seharusnya tidak dimanfaatkan untuk memicu konflik atau ketegangan baru di tengah masyarakat. Dalam pandangannya, tindakan kekerasan yang bermotif politik atau kepentingan tertentu hanya akan memperkeruh kondisi sosial yang sudah kompleks.

Rieke mengajak masyarakat untuk ikut mengawal proses hukum dalam kasus ini. Ia menilai partisipasi publik penting untuk memastikan bahwa proses penyelidikan berjalan secara transparan dan tidak berhenti di tengah jalan.

Ia juga mengingatkan agar kasus serupa di masa lalu tidak kembali terulang, di mana publik merasa diarahkan untuk menerima kesimpulan tertentu sebelum proses hukum benar-benar selesai. Menurutnya, keadilan yang utuh hanya dapat tercapai jika seluruh fakta diungkap secara terbuka dan pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku.

Di sisi lain, kepolisian menyatakan bahwa proses penanganan kasus tersebut terus berjalan. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat, Roby Heri Saputra, menyampaikan bahwa penyelidikan kasus tersebut telah ditingkatkan ke tahap penyidikan setelah ditemukan indikasi tindak pidana.

Menurutnya, dugaan pelanggaran hukum dalam kasus ini berkaitan dengan pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengatur mengenai penganiayaan berat. Namun hingga saat ini identitas pelaku masih terus didalami oleh penyidik.

Roby juga menanggapi beredarnya sejumlah foto yang menampilkan dua orang pengendara sepeda motor yang diduga sebagai pelaku penyerangan. Ia menjelaskan bahwa gambar tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan atau AI sehingga justru berpotensi menyesatkan proses penyelidikan.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi, karena informasi yang tidak akurat dapat mengganggu proses penyidikan yang sedang berlangsung.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menyatakan bahwa kasus penyerangan terhadap aktivis KontraS tersebut menjadi salah satu prioritas penanganan aparat kepolisian. Ia menegaskan bahwa penyelidikan dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan penyidik dari Polres Metro Jakarta Pusat dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Tim penyidik, menurut Budi, menggunakan pendekatan scientific crime investigation untuk mengungkap identitas pelaku. Metode tersebut melibatkan analisis bukti forensik, rekaman kamera pengawas, serta pemeriksaan saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian.

Hingga saat ini, kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi ketika peristiwa tersebut terjadi. Para saksi tersebut merupakan warga yang melihat atau mengetahui kejadian tersebut secara langsung.

Penyidik berharap keterangan saksi serta bukti yang dikumpulkan dapat membantu mengungkap kronologi peristiwa secara lengkap dan mengidentifikasi pelaku yang bertanggung jawab atas penyerangan tersebut.

Kasus ini mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan karena menyangkut keamanan aktivis dan kebebasan sipil di Indonesia. Banyak pihak berharap aparat penegak hukum dapat mengungkap pelaku secara cepat dan transparan, sehingga kepercayaan publik terhadap sistem hukum tetap terjaga dan rasa aman masyarakat dapat dipulihkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Ledakan di Masjid di Jember, Gegana Turun Tangan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Prancis, sekutu rencanakan misi gabungan untuk amankan Selat Hormuz
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Lagi Perang, Iran Umumkan Kenaikan Upah Minimum 60 Persen
• 9 jam laludetik.com
thumb
Haedar Nashir Imbau Warga Muhammadiyah di Bali Tak Gelar Takbir Keliling
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Konvoi Motor Ganggu Ketenangan, Warga Kembangan & Kebon Jeruk Pertanyakan Keberadaan Polisi
• 12 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.