Amerika Serikat telah menghabiskan dana mencapai US$12 miliar atau setara Rp 204 triliun jika mengacu kurs Rp 17.000 per dolar AS untuk perang melawan Iran bersama Israel sejak 28 Februari 2026. Meski demikian, belum ada tanda-tanda perang akan segera berakhir memasuki pekan ketiga ini.
Mengutip Aljazeera, proyeksi dana yang dihabiskan AS ini diberikan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett di acara Face the Nation CBS pada Minggu (15/1). Menurut dia, angka itu adalah informasi terbaru yang telah ia terima sejauh ini.
Pembawa acara CBS, Margaret Brennan, mencatat lebih dari US$5 miliar dihabiskan hanya untuk amunisi pada minggu pertama. Pertanyaan itu tidak langsung ditanggapi oleh Hassett.
Namun demikian, Hassett menepis ancaman ekonomi perang terhadap AS. Pasar keuangan yang menetapkan harga kontrak energi masa depan, menurut dia, sudah mengantisipasi penyelesaian yang cepat dan harga energi yang jauh lebih rendah, bertentangan dengan kekhawatiran konsumen di AS atas kenaikan biaya bahan bakar di SPBU.
Pasar tetap gelisah setelah ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Menurutnya, gangguan apa pun terhadap pengiriman barang di Teluk akan lebih merugikan negara-negara yang bergantung pada minyak di kawasan itu daripada Amerika Serikat.
“Amerika tidak akan mengalami kerugian ekonomi akibat tindakan Iran,” katanya.
Ia menekankan, AS kini adalah produsen utama minyak, berbeda dnegan era tahun 1970-an. “Kita memiliki banyak sekali minyak," ujar dia.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperingatkan bahwa pemboman terhadap Iran akan meningkat secara dramatis.
Kebingungan terkait biaya perang yang membebani AS beriringan dengan semakin dalamnya ketidakpastian tentang tujuan perang ini sendiri.
Pernyataan pemerintahan Trump tentang tujuan perang telah bergeser dari membongkar program nuklir Iran, menjadi melemahkan rudal-rudalnya, dan sekarang mengancam infrastruktur minyaknya melalui jalur pelayaran Selat Hormuz.
Setelah pengarahan tertutup kepada Senat pada awal Maret, Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyatakan kekhawatirannya tentang perluasan misi AS di Iran. Ia menyebut sesi tersebut "sangat tidak memuaskan" dan mengatakan bahwa pemerintah memberikan "jawaban yang berbeda setiap hari" tentang mengapa serangan itu diperintahkan.
Minggu lalu, Senator Chris Van Hollen mengatakan kepada Al Jazeera bahwa AS telah "membuka kotak Pandora tanpa tahu ke mana ini akan berakhir".
Setidaknya 1.444 orang telah tewas di Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari. Tiga belas tentara AS telah tewas, dan lebih dari 140 terluka. Pertempuran juga telah menyebar ke Lebanon, dan negara-negara Teluk terus menghadapi serangan drone dan serangan berulang kali oleh Iran.
Beberapa negara, seperti India, telah mulai melangkahi Washington untuk bernegosiasi langsung dengan Teheran tentang pengamanan jalur aman bagi kapal tanker mereka melalui Selat Hormuz.



