Penulis: Paino
TVRINews, Lingga
Polres Lingga menyiapkan rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan pada tradisi Malam Tujuh Likur atau malam ke-27 Ramadan 1447 Hijriah yang diperingati pada Senin, 16 Maret 2026 malam.
Tradisi yang identik dengan pemasangan gerbang lampu colok tersebut diperkirakan kembali menarik perhatian masyarakat dan wisatawan, sehingga berpotensi menimbulkan kepadatan kendaraan di sejumlah titik, khususnya di wilayah Dabo Singkep.
Kepadatan diprediksi terjadi di ruas Jalan Dabo Lama menuju Kampung Baru hingga arah Kampung Boyan, Dabo Singkep. Ruas jalan yang relatif sempit dan hanya satu arah kerap menjadi titik kemacetan setiap perayaan Malam Tujuh Likur.
Kapolres Lingga Pahala Martua Nababan mengatakan pihaknya akan memberlakukan rekayasa lalu lintas guna mengurai potensi kemacetan di kawasan tersebut.
“Untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan pada malam Tujuh Likur, kami akan memberlakukan rekayasa lalu lintas di sejumlah titik. Kami juga mengimbau masyarakat agar memarkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan ketika ingin berhenti atau berfoto di gerbang lampu colok,” ujar Pahala.
Ia juga meminta masyarakat tidak terlalu lama berhenti di sekitar gerbang Tujuh Likur agar arus kendaraan tetap lancar dan tidak terjadi penumpukan kendaraan di sepanjang jalan.
Tradisi gerbang Tujuh Likur dengan hiasan lampu colok atau pelita merupakan bagian dari budaya Melayu yang terus dilestarikan masyarakat Lingga.
Pada malam tersebut, gerbang-gerbang yang dihiasi lampu minyak dipasang di sepanjang jalan sebagai simbol menyambut malam-malam terakhir Ramadan.
Selain menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat, tradisi ini juga menjadi momen yang paling dinantikan para perantau yang pulang ke kampung halaman untuk merasakan suasana khas Ramadan di daerah asal mereka.
Editor: Redaktur TVRINews



