Kisah Kelahiran dan Keruntuhan Kekaisaran Jawa yang Terakhir

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

(Pulau) Jawa mengalami kekosongan kekuasaan "Kekaisaran" selama dua abad yakni setidaknya sejak abad 14 hingga abad 16. Setelah Majapahit mulai kehilangan pengaruhnya, berdiri kerajaan-kerajaan Islam (Demak dan Pajang) yang bagi saya, tidak terlalu berarti. Walau dapat saya katakan bahwa sebenarnya Kesultanan Demak masih memiliki kekuatan angkatan laut yang hebat.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan dalam interval waktu antara runtuhnya Majapahit dan munculnya negara-negara baru di abad 15 hingga 16

Siapakah yang mewarisi legitimasi kekaisaran itu?

Ialah Mataram yang baru saja lahir di akhir abad ke-16 karena memberontak dari negara induk yakni Pajang. Mataram mulanya hanya daerah setingkat provinsi di bawah Kesultanan Pajang. Sutawijaya, putra Pamanahan yang merupakan Gubernur Mataram kemudian memiliki keinginan untuk menjadikan Mataram menjadi negara yang merdeka. Maka, pemberontakan terjadi dan Mataram berhasil berdiri sendiri menjadi negara baru di tahun 1584 dengan Sutawijaya menjadi raja pertama bergelar Panembahan Senapati.

Namun tetap saja, Mataram pada awal berdirinya tak lebih dari sebuah negara kecil yang baru merdeka. Gelar rajanya pun hanya sebatas “Panembahan” (setidaknya sampai raja ketiga). Konon, Sutawijaya sengaja memakai gelar Panembahan karena ia tetap menghormati Sultan Pajang.

Maka, tak berlebihan jika menyebut bahwa era Kekaisaran Mataram baru dimulai di era raja ketiga yakni Panembahan Hanyakrakusuma yang menjadi raja terbesar di Mataram bahkan di Jawa setidaknya selama 4 abad sejak runtuhnya Majapahit hingga terpecahnya Mataram.

Hanyakrakusuma, sebelumnya bernama Raden Mas Jatmika naik takhta menggantikan ayahnya yakni Hanyakrawati (sebenarnya ia menggantikan posisi saudara tirinya yakni Martapura yang mengidap tuna grahita). Sebagai cucu Senapati, Hanyakrakusuma memiliki darah dan insting militer yang amat kuat. Ia melakukan ekspedisi militer besar-besaran mulai tahun 1614 sampai setidaknya 1627 yang membuatnya menaklukan hampir seluruh Pulau Jawa dan Madura kecuali Banten dan Batavia.

Inilah yang menjadi kuncinya. Ketika Hanyakrakusuma berhasil menaklukan Madura pada 1624 dan menyatukan hampir seluruh Jawa, maka ia menasbihkan dirinya menjadi “Kaisar Jawa” dengan gelar baru yakni Susuhunan. Susuhunan sendiri secara harfiah adalah "junjungan". Namun, secara kedudukan, gelar ini bermakna "tuan dari segala tuan" atau sederhananya adalah Kaisar atau Maharaja karena memang Mataram di bawah Hanyakrakusuma berhasil membawahi banyak kerajaan dan kesultanan kecil di Pulau Jawa dan Madura. Maka Hanykrakusuma kini lahir menjadi kaisar baru dengan nama “Susuhunan Agung Hanyakrakusuma” yang kemudian lebih populer disebut sebagai Sultan Agung. Di bawahnya, Jawa memiliki kekaisaran yang baru setelah mengalami kekosongan kekuatan selama hampir 3 abad lamanya.

Namun demikian, Agung hanyalah seorang diktator militer. Ia juga menerapkan kekuasaan amat terpusat yang dengan “egois”, ia tempatkan di pedalaman (nampaknya Indonesia alih-alih mengadopsi sistem desentralisasi Majapahit, malah mengadopsi sistem sentralisasi Mataram). Maka tak heran jika wilayah yang ia taklukan dengan kekerasan, terutama wilayah pesisir utara, menyimpan dendam laten berkepanjangan yang pada akhirnya membuat kekuasaan kekaisaran ini perlahan terkikis.

Belum lagi, banyak kasus yang selalu berulang di dalam sejarah. Yakni, pemimpin yang hebat biasanya akan digantikan dengan pemimpin yang tidak becus. Maka demikian benar, oleh anak cucu Agung, yakni mulai Amangkurat I dan seterusnya, yang ada di Mataram hanyalah kehancuran perlahan.

Kekaisaran ini dapat bertahan secara berdaulat setidaknya sampai tahun 1749 ketika kaisar terakhirnya, Pakubuwana II mangkat dan sebelum ia mangkat, ia malah menyerahkan kedaulatan negara ke VOC. Selanjutnya, enam tahun kemudian, kekaisaran ini harus pula mengalami perpecahan akibat dari Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membuatnya terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Sebetulnya, secara tradisi, yang mewarisi legitimasi kekaisaran adalah Surakarta. Walaupun secara de jure, kedua pecahan Mataram ini adalah setara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Telat Bayar THR, Ratusan Perusahaan di Jawa Barat Dilaporkan ke Disnakertrans  
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Video: XLSMART Berangkatkan 700 Pemudik di Program Mudik Bareng 2026
• 32 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Persebaya Terancam Kehilangan 9 Pemain Senilai Rp34,3 Miliar: Saatnya Datangkan Ramadhan Sananta sebagai Solusi!
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Live Report Jalur Mudik dari Rest Area KM 57 A, Tol Jakarta - Cikampek
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Derby Romero Sempat Alami Heat Stroke saat Syuting Film Ikatan Darah
• 22 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.