Meski Mulai Ditinggal Mudik, Harga Sayur-mayur di Pasar Induk Kramatjati Masih Tinggi

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Meski aktivitas perdagangan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, semakin menurun mendekati Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, hal itu tidak lantas membuat harga pangan turun. Harga komoditas hortikultura tetap tinggi akibat minimnya rantai pasok dari daerah produsen.

Penurunan aktivitas di pusat grosir pangan terbesar di Jakarta ini terlihat dari berkurangnya jumlah pengunjung dan pedagang. Menyusutnya jumlah pembeli membuat para pedagang di pasar induk menghadapi dilema. Mereka enggan mendatangkan pasokan dalam jumlah besar karena khawatir barang tidak terserap dan berujung pada kerugian.

”Karena di sini mau dikirim banyak pun terserap tidak? Orang yang di sini pindah ke daerah semua. Berapa juta orang yang pindah dari sini ke sana, kalau mau dikirim pasokan berton-ton ya rugi,” tutur Asisten Usaha UPG Pasar Induk Kramat Jati Harnoto ketika ditemui di kantornya, Senin (16/3/2026).

Meski daya beli menurun, harga sejumlah komoditas segar tetap tinggi. Data Informasi Pangan Jakarta di Pasar Induk Kramat Jati per Senin (16/3/2026) mencatat kenaikan tajam pada komoditas tomat buah, yakni naik 44,4 persen menjadi Rp 13.000 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok cabai. Harga cabai merah keriting naik 21,7 persen menjadi Rp 28.000 per kilogram (kg). Cabai rawit hijau naik 18,4 persen menjadi Rp 45.000 per kg, dan cabai rawit merah berada di harga Rp 72.000 per kg dengan stok harian sekitar 14 ton. Harga bawang merah juga naik 8,7 persen menjadi Rp 25.000 per kg meskipun masih ada stok sebanyak 120 ton.

Gangguan logistik

Menurut Harnoto, tingginya harga hortikultura itu disebabkan oleh rantai pasok yang bergantung pada panen harian. Selama ini, sebagian besar produk hortikultura segar dikirim dari beberapa daerah produsen yang cukup jauh, seperti Brebes, Magelang, dan Kediri, termasuk dari luar pulau seperti Medan.

Menjelang puncak arus mudik, rantai distribusi terhambat oleh rekayasa lalu lintas. Penerapan sistem contraflow atau lawan arah hingga one way atau satu arah di Tol Trans Jawa dapat menambah waktu tempuh kendaraan logistik.

Karena di sini mau dikirim banyak pun terserap tidak? Orang yang di sini pindah ke daerah semua. Berapa juta orang yang pindah dari sini ke sana, kalau mau dikirim pasokan berton-ton ya rugi.

”Kalau sudah one way, kemacetan di mana-mana. Pasti berdampak pada lalu lintasnya yang cukup panjang karena (kendaraan logistik) harus lewat jalur Pantura. Cikarang sudah gas contraflow, masuk Cikampek one way terus sampai sana. Waktu pengiriman harus bertambah,” terangnya.

Kondisi ini berbeda dengan komoditas kering dan rempah. Bawang putih stabil di harga Rp 26.000 per kg dengan stok 60 ton karena mengandalkan pasokan impor sehingga tidak menuntut proses panen setiap hari. Komoditas lada stabil di angka Rp 152.000 per kg, cengkeh Rp 160.000 per kg, serta jahe naik 7,1 persen menjadi Rp 15.000 per kg.

Baca JugaPasar Tanah Abang Berangsur Sepi

Faktor lain yang menurunkan pasokan ke pasar induk adalah liburnya para pedagang dan petani di daerah produsen. ”Namanya pedagang itu susah untuk ditentukan. Kalau mereka mau libur seminggu di sana, atau mau dua minggu, ya, jadi-jadi saja,” tambah Harnoto.

Fluktuasi harga

Pedagang sayur di Pasar Induk Kramat Jati, Budi Ferdiansyah (32), mengatakan, sampai saat ini harga komoditas hortikultura masih belum stabil. Perubahan harga bahkan bisa terjadi dalam hitungan jam.

”Kalau di sini tergantung barangnya kosong atau tidak. Umpamanya cabai jam dua (siang) kosong, harga yang awalnya Rp 30.000, dari jam dua sampai jam empat (sore) itu bisa sampai Rp 70.000 per kg. Naiknya (harga) di sini dulu karena tidak ada barang,” ungkap Budi.

Kenaikan harga mendadak ini dipicu oleh absennya aktivitas panen petani di daerah. Semisal, hari pertama puasa atau Lebaran dapat dipastikan tidak ada barang karena petani yang memetik produk hortikultura libur. Hal itu dapat membuat stok barang menipis sehingga harga naik.

Selain itu, kata Budi, para petani di daerah saat ini juga aktif memantau informasi pasokan. Jika stok di Pasar Induk Kramat Jati menipis, petani berani mematok harga tinggi. Jika pedagang tak sanggup menawar, barang akan dioper ke pasar lain.

Baca JugaPasar Parsel Cikini Sepi, Warga Bergeser Beli Hampers via Daring

Pasokan dari daerah yang lebih jauh, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga terancam mengalami penurunan kualitas imbas dari kemacetan lalu lintas Lebaran. Sayuran berisiko layu di jalan. Hal itu berbeda dengan pasokan dari wilayah yang lebih dekat seperti Bogor atau Bandung.

Di tengah minimnya pasokan dan pengunjung pasar yang mudik, pedagang juga harus menanggung biaya operasional tinggi. Budi menyebut, pemilik lapak dapat mengeluarkan biaya operasional hingga Rp 1 juta sehari untuk jasa kuli panggul dan kebutuhan harian pekerja.

”Sehari kita harus untung di atas Rp 300.000 biar terasa hasilnya. Kalau cuma dapat Rp 300.000, itu sama saja sekadar balik modal. Teman-teman bilang, itu namanya cuma kerja bakti,” kata pedagang yang bersiap mudik ke Bogor tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dwi Soetjipto Minta Publik Tetap Tenang Hadapi Isu Pasokan BBM
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
IHSG Dibuka Menguat Di Tengah Ketidakpastian Arah Kebijakan Suku Bunga
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
BMKG: Kemarau di Jabar Datang Lebih Awal, Khususnya Bekasi dan Karawang
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Cerita Warga Jakarta Ikut Mudik Gratis: Hemat Biaya, Bisa Berangkat Sekeluarga
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Hampir 70 Ribu Kendaraan Akan Mudik dari Arah Jakarta Lewat GT Kalikangkung Besok
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.