Penulis: Fityan
TVRINews - Pakistan
Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Mortar
Ketegangan di sepanjang garis perbatasan Pakistan dan Afghanistan mencapai titik didih baru.
Aksi saling serang lintas batas yang melibatkan artileri berat dan mortir dilaporkan telah merenggut nyawa warga sipil, termasuk anak-anak, di kedua belah pihak seperti di kutip oleh The Guardian.
Situasi ini memicu kekhawatiran internasional akan pecahnya konflik terbuka di kawasan yang sudah tidak stabil tersebut.
Ancaman Krisis Kemanusiaan di Perbatasan
Fereshta Abbasi, peneliti dari Human Rights Watch, menyuarakan keprihatinan mendalam atas laporan jatuhnya korban jiwa massal.
Ia mendesak otoritas terkait untuk segera melakukan investigasi menyeluruh.
"Fasilitas sipil tidak boleh menjadi target atau ditempatkan dalam risiko serangan yang tidak proporsional," tegas Abbasi, mengingatkan kedua belah pihak akan hukum humaniter internasional.
Resolusi PBB dan Tekanan Diplomatik
Eskalasi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Dewan Keamanan PBB secara konsensus mengadopsi resolusi yang menuntut penguasa Taliban di Afghanistan untuk meningkatkan upaya pemberantasan terorisme.
Meski tidak menyebut Pakistan secara eksplisit, resolusi tersebut mengutuk keras segala bentuk aktivitas teror.
Bersamaan dengan itu, PBB juga memperpanjang misi politik Unama di Afghanistan selama tiga bulan ke depan guna menjaga stabilitas.
Tuduhan Perlindungan Kelompok Militan
Inti dari konflik ini adalah tuduhan serius dari Islamabad bahwa Kabul memberikan perlindungan bagi kelompok militan, khususnya Taliban Pakistan (TTP) dan separatis Baloch.
Pakistan mengklaim kelompok-kelompok ini menggunakan tanah Afghanistan sebagai basis untuk melancarkan serangan mematikan di wilayah mereka.
Sebaliknya, pemerintah Taliban di Kabul membantah keras tuduhan tersebut dan menuduh balik Pakistan melakukan agresi yang melanggar kedaulatan negara.
Kronologi Saling Balas Serangan
Pertempuran terbaru ini dilaporkan bermula dari insiden akhir pekan lalu:
- Minggu 15 Maret 2026: Mortar dari arah Afghanistan menghantam sebuah rumah di distrik Bajaur, Pakistan, menewaskan satu keluarga.
- Senin 16 Maret 2026: Militer Pakistan membalas dengan menargetkan posisi-posisi di Khost, Afghanistan, yang menurut pejabat setempat menghancurkan pemukiman warga dan menewaskan empat orang.
- Februari - Maret: Rangkaian serangan udara dan darat terus berlanjut, merusak gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Qatar pada Oktober lalu.
Islamabad kini menggambarkan situasi di perbatasan sebagai "perang terbuka".
Tanpa adanya dialog diplomatik yang efektif, koridor perbatasan ini terancam menjadi medan tempur permanen yang mengorbankan ribuan nyawa warga sipil di kedua sisi.
Editor: Redaksi TVRINews

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5514925/original/049442000_1772121269-7.jpg)



