Rumah sakit di perbatasan China jadi harapan pasien Asia Tenggara

antaranews.com
7 jam lalu
Cover Berita
Kunming (ANTARA) - Saat kabut pagi menyelimuti Sungai Nanxi, para pejalan kaki yang membawa tas bergegas melintasi Jembatan China-Vietnam yang membentang di atas sungai tersebut.

Seorang wanita asal Vietnam bernama Vo Thi Lan Phuong menyelesaikan prosedur pemeriksaan bea cukai dan langsung bergerak menuju tujuannya, yakni Rumah Sakit Rakyat Wilayah Otonom Etnis Yao Hekou di Prefektur Otonom Etnis Hani dan Yi Honghe di Provinsi Yunnan, China barat daya.

Berlokasi hanya beberapa blok dari Provinsi Lao Cai di Vietnam, "rumah sakit Gerbang Negara" ini tidak hanya melindungi kesehatan warga setempat, tetapi juga memberikan manfaat bagi semakin banyak pasien asal Asia Tenggara melalui layanan medis yang beragam.

"Ini kunjungan ketiga saya ke sini," ujar Vo Thi Lan Phuong.

Meski menghadapi kendala bahasa, staf medis membantu dia pada setiap tahap, mulai dari pendaftaran dan pemeriksaan hingga pengambilan obat dan konsultasi.

"Saya merasa aman di sini, seperti di rumah sendiri."


ANTARA/Xinhua

Di lobi rumah sakit itu, papan penunjuk arah dalam bahasa Mandarin, Inggris, dan Vietnam terpampang jelas.

Di meja konsultasi, para staf dengan sabar membantu pasien asing dalam menyelesaikan berbagai prosedur.

Untuk mengatasi kendala bahasa, rumah sakit ini dilengkapi dengan perangkat lunak (software) penerjemahan konsultasi medis cerdas, menyediakan layanan pemandu medis berbahasa asing, serta menugaskan dokter yang mahir berbahasa asing guna memastikan kelancaran proses berobat bagi pasien asing.

Di Departemen Neurologi, seorang dokter asal Vietnam bernama Tran Thi Oanh memberikan konsultasi kepada pasien menggunakan bahasa ibunya. Logat lembutnya membuat para pasien asing merasa lebih tenang.

"Terima kasih kepada dokter China. Saat ini, saya sudah mampu berjalan sendiri," ujar Gao Haitao, direktur Departemen Rehabilitasi Pengobatan Tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM), saat dia dengan hati-hati membuka sepucuk surat berisi ucapan terima kasih yang ditulis tangan dalam bahasa Vietnam.

Penulis surat tersebut merupakan seorang pasien asal Provinsi Lao Cai, Vietnam, yang mengalami infark serebral.

Selama menjalani perawatan, dirinya harus menggunakan kursi roda dan tidak dapat menggerakkan bagian tubuh bawah. Usai menjalani terapi akupunktur dan pijat selama satu bulan, dia mampu berjalan perlahan dengan bantuan keluarganya saat keluar dari rumah sakit.

Di ruang konsultasi lain, Vo Thi Lan Phuong sedang menjalani perawatan TCM.

Metode diagnosis TCM yang telah digunakan selama ribuan tahun dan terdiri dari observasi, mendengarkan, bertanya hingga pemeriksaan denyut nadi, serta dipadukan dengan peralatan medis modern, merupakan pilihan populer bagi banyak pasien asing.

Di ruang kerja para dokter, berbagai piagam penghargaan dan surat ucapan terima kasih dalam berbagai bahasa menunjukkan pengakuan pasien asing terhadap dokter China dan terapi TCM.



ANTARA/Xinhua

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meluasnya cakupan kebijakan bebas visa China dan penerapan berbagai kebijakan pemeriksaan bea cukai yang memudahkan, Pelabuhan Hekou telah menarik banyak wisatawan asing.

Data dari departemen inspeksi perbatasan China menunjukkan pada 2025, jumlah penumpang masuk (inbound) dan keluar (outbound) di Pelabuhan Hekou mencapai 6,42 juta orang, meningkat 11,9 persen secara tahunan (year on year), dan mencakup lebih dari 90 negara dan kawasan.

"Seiring kian makmurnya pelabuhan itu, permintaan perawatan medis bagi pasien asing juga semakin menguat," ujar Xu Ankou, presiden Rumah Sakit Rakyat Wilayah Hekou.

Sebagai "rumah sakit Gerbang Negara" terbesar yang memiliki departemen paling lengkap di area perbatasan China-Vietnam sektor Yunnan, rumah sakit tersebut pada 2025 telah melayani lebih dari 10.000 pasien asing asal Vietnam, Thailand, Laos, dan negara-negara lainnya.

Kerja sama lintas negara ini menjadi semakin berharga terutama pada saat-saat kritis.

Untuk memudahkan pasien luar negeri mendapatkan penanganan medis darurat, rumah sakit itu telah membentuk mekanisme koordinasi dengan departemen kesehatan, bea cukai, inspeksi perbatasan, dan instansi terkait lainnya, serta membuka "jalur hijau" untuk penyelamatan medis darurat lintas perbatasan guna memastikan waktu penanganan yang sangat berharga bagi pasien dalam kondisi kritis.









ANTARA/Xinhua


Mulai dari konsultasi yang sabar di instalasi rawat jalan, berpacu dengan waktu di jalur darurat, hingga pendampingan yang hangat di ruang perawatan, orang-orang dari berbagai bahasa dan kewarganegaraan merasakan kebaikan yang sama di rumah sakit perbatasan ini.





Pada April tahun lalu, Tuan Lv, pasien asal Malaysia, yang mengalami luka serius akibat kecelakaan mobil, memasuki China melalui "jalur hijau" tersebut dan menerima perawatan yang efektif dalam waktu sesingkat mungkin.

Setiap kali mengingat kejadian itu, dirinya selalu merasa sangat bersyukur.

"Jika bukan karena rumah sakit dan para dokter China, saya tidak berani membayangkan kondisi saya sekarang."

Sebagai simpul penting di "Jalur Sutra Selatan", Hekou telah menjadi jalur pertukaran yang penting antara China dan negara-negara Asia Tenggara sejak masa kuno, yang menyimpan sejarah panjang persahabatan.

Kini, "rumah sakit Gerbang Negara" yang berlokasi di kota perbatasan itu terus menorehkan kisah persahabatan lintas negara di era baru melalui dedikasi dan keahlian medis.



ANTARA/Xinhua






Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mudik Nyaman Bersama TASPEN 2026: Ribuan Pemudik Diberangkatkan ke Berbagai Kota Tujuan
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Perantau Asal Bengkulu Langsung Nabung Usai Lebaran Agar Bisa Mudik Tiap Tahun
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Netanyahu Ledek Rumor Tentang Pidatonya yang Disebut Buatan AI dan Menyiratkan Ia Telah Tewas
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
OJK Waspadai Risiko Siber hingga Yurisdiksi dalam Pertukaran Data RI-AS
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Pelaku Juga Terkena Air Keras Usai Serang Aktivis KontraS Andrie Yunus
• 18 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.