EtIndonesia. Ada seorang wanita yang hubungannya dengan keluarga tidak terlalu baik.
Ia jarang pulang ke rumah.
Suatu hari, ketika ia pulang, ia melihat ibunya yang sudah tua berjalan tertatih-tatih.
Setelah diperhatikan lebih dekat, ternyata kuku kaki ibunya sudah terlalu panjang hingga tumbuh masuk ke dalam daging, menyebabkan luka, darah, bahkan bernanah.
Saat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar memperhatikan wajah ibunya dengan sungguh-sungguh.
Barulah ia menyadari bahwa ibunya sudah sangat tua —tua sampai-sampai ia tidak lagi mampu membungkuk untuk memotong kuku kakinya sendiri.
Wanita itu pun menangis.
Sejak saat itu, setiap bulan ia selalu pulang ke rumah.
Ia menyiapkan satu baskom air hangat untuk merendam kaki ibunya.
Setelah kuku kaki ibunya menjadi lunak, ia akan dengan hati-hati memotongnya.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa orang tua seharusnya mampu mengikuti perubahan dunia seperti dirinya.
Namun baru dalam beberapa tahun terakhir ia menyadari sesuatu:
Sering kali orang tua menahan banyak hal yang ingin mereka katakan atau lakukan —
hanya karena mereka takut anak-anaknya merasa tidak sabar atau terganggu.
Suatu ketika, lima saudara perempuan dalam keluarga itu hanya bisa berkumpul tiga orang.
Mereka memutuskan untuk mengajak kedua orang tuanya berlibur ke Singapura.
Di dalam pesawat, selama empat jam perjalanan, ayah mereka sama sekali tidak mau pergi ke toilet.
Meskipun mereka sudah berkali-kali membujuknya, ayah mereka tetap duduk diam seperti seorang biksu yang sedang bermeditasi.
Bahkan di setiap tempat wisata yang mereka kunjungi, ia hanya pergi ke toilet jika benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi.
Suatu kali, wanita itu memperhatikan bahwa ayahnya sangat lama berada di kamar kecil.
Ketika ayahnya keluar, ia tidak melihat anak-anaknya di sekitar.
Ia melihat ayahnya memandang ke timur… lalu ke barat… mencari-cari di tengah kerumunan orang.
Namun bahkan dalam situasi seperti itu, ayahnya tetap tidak mau berteriak memanggil mereka.
Ia tidak ingin membuat anak-anaknya merasa malu.
Di tengah keramaian itu, ayahnya berdiri dengan wajah kebingungan dan cemas, berharap putrinya segera muncul.
Saat itulah wanita itu akhirnya mengerti mengapa ayahnya tidak suka pergi ke toilet ketika sedang berada di luar rumah.
Dulu, cucu kecilnya sering menertawakan kakeknya karena bahkan tidak bisa memasang kancing baju dengan benar.
Cucu itu berkata:
“Kakek kok lama sekali… kakek kok bodoh sekali… ini kan gampang!”
Mengapa sesuatu yang sangat sederhana justru sulit bagi orang tua?
Karena kita belum mengalaminya.
Ketika usia semakin tua, terkadang tangan dan kaki tidak lagi patuh pada keinginan kita.
Sejak saat itu, selama perjalanan wisata tersebut, wanita itu tidak lagi bisa menikmati liburan dengan santai.
Setiap kali melihat ekspresi ayahnya sedikit saja berubah, ia segera membujuk ayahnya pergi ke toilet.
Ia bahkan hampir “mengawal” ayahnya masuk ke kamar kecil, sementara ia sendiri menunggu di luar.
Pada awalnya ayahnya merasa sangat tidak nyaman.
Namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa.
Dalam perjalanan pulang di pesawat, wanita itu menemani ayahnya ke kamar kecil.
Tiba-tiba ayahnya berkata pelan:
“Sebenarnya… aku tidak tahu bagaimana cara mengunci pintu toilet di pesawat.”
Wanita itu menepuk bahu ayahnya dan berkata dengan lembut:
“Tidak apa-apa.”
Namun di dalam hatinya, ia merasakan kesedihan yang mendalam.
Saat itu ia ingin sekali segera memberi tahu saudara perempuannya yang ikut dalam perjalanan:
“Lain kali kalau kita bepergian lagi, ajak juga suami kalian. Dengan begitu kita bisa membantu merawat ayah dan ibu dengan lebih baik.”
Ia juga ingin mengatakan kepada saudara yang tidak ikut:
“Uang masih bisa dicari lagi di masa depan.
Namun orang tua yang masih sehat dan masih bisa kita ajak bepergian bersama —
itulah kebahagiaan terbesar bagi seorang anak.”
Ia juga ingin berkata kepada ayahnya:
“Sekarang masalah toilet sudah teratasi.
Lain kali kita bisa pergi ke tempat yang lebih jauh lagi.”
Perjalanan ini memberinya banyak sekali perasaan yang mendalam.
Ternyata ayah dan ibunya telah berubah.
Mereka tidak lagi seperti dulu —
bukan lagi “lengan kuat yang selalu melindungi”
atau “pelabuhan hangat tempat berlindung.”
Ternyata raksasa yang selama ini menopang langit di atas kepalanya…
juga akan menjadi tua suatu hari nanti. (Jhon)





