Bisnis.com, JAKARTA — Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) membiayai proyek percontohan teknologi pengolahan mineral kritis Amerika Serikat (AS) di Indonesia.
Adapun penerapan teknologi itu untuk mendiversifikasi rantai pasok mineral kritis dengan meningkatkan pengolahan litium dari operasi energi panas bumi.
Melalui proyek percontohan yang didanai USTDA, Lilac Solutions, Inc. (Lilac) yang berbasis di California akan mendemonstrasikan teknologinya di fasilitas milik pengembang panas bumi milik BUMN Indonesia, PT Geo Dipa Energi (GDE).
Wakil Direktur USTDA Thomas R. Hardy mengatakan, fasilitas tersebut akan menjadi pertama di Indonesia yang mengekstraksi litium dari air panas bumi. Menurutnya, proyek ini akan menciptakan sumber pasokan litium yang terpercaya, komponen penting bagi banyak teknologi modern, sekaligus mendukung sumber energi vital bagi Indonesia.
"Proyek ini menyoroti nilai solusi AS dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan mendorong pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab bersama mitra kami di Indonesia," kata Hardy melalui keterangan resmi dikutip Selasa (17/3/2026).
Dia menjelaskan, Lilac akan menerapkan teknologi pengolahan litium langsung berbasis pertukaran ion di lapangan panas bumi Dieng, Jawa Tengah, untuk menunjukkan metode yang bertanggung jawab dan efektif dalam pengolahan serta pemurnian litium menjadi litium karbonat berkualitas tinggi.
Selain itu, dukungan USTDA juga akan menghubungkan GDE dengan calon pembeli litium karbonat asal AS. Dengan mendemonstrasikan keberhasilan dan skalabilitas teknologi Lilac, proyek ini bertujuan menarik pendanaan untuk ekspansi di masa depan dan membuka peluang baru bagi lanskap panas bumi yang luas di Indonesia dan kawasan Indo-Pasifik.
Direktur Utama GDE Yudistian Yunis mengatakan, dukungan USTDA menandai langkah penting dalam memperkuat kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan litium serta mempererat kolaborasi strategis antara Indonesia dan AS.
Menurut dia, inisiatif ini dapat mendukung pengembangan industri baterai Indonesia dan aplikasi litium domestik lainnya dengan membuka nilai tambah dari sumber daya terbarukan.
"Litium secara alami terkandung dalam air panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada, sehingga kami dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan," ujar Yudistian.
Dia menambahkan bahwa dukungan USTDA berperan sebagai katalis dengan mempercepat akses terhadap inovasi dan keahlian Amerika, sekaligus memfasilitasi koneksi dengan calon pembeli asal AS. Dengan mendemonstrasikan model yang bertanggung jawab dan layak secara komersial, kolaborasi ini diharapkan dapat menarik investasi lebih lanjut dan memperkuat skalabilitas proyek jangka panjang.
Yudistian menjelaskan, kemitraan ini mencerminkan kerangka kerja yang saling menguntungkan, meningkatkan ketahanan rantai pasok, mendorong pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dan memberikan nilai strategis bersama bagi Indonesia dan AS.
CEO Lilac Raef Sully mengatakan, USTDA membuka peluang bagi perusahaan teknologi AS untuk bersaing secara global. "Lapangan panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang besar dan belum dimanfaatkan, dan proyek ini akan membuktikan bahwa teknologi pertukaran ion Amerika dapat mengoptimalkannya secara bertanggung jawab dan berskala besar," katanya.





