JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang pria asal Depok, Jawa Barat, Dika Irawan (36), memutuskan membuka jasa beres-beres rumah untuk membantu para pengidap gangguan mental hoardingdisorder.
Cerita ini bermula pada 2024, ketika Dika tengah fokus membuat konten di media sosial yang berkaitan dengan aktivitas keluarga.
"Jadi, awalnya itu saya rajin ngonten, terutama waktu itu soal tentang anak-anak, bapak-bapak. Di tengah ngonten itu saya merasa kok kalau ngonten anak-anak kok kasihan mereka terekspos wajah dan identitas mereka," kata Dika ketika diwawancarai Kompas.com, Jumat (13/3/2026).
Baca juga: Mudik Tenang, Anabul Bisa Staycation di Pet Hotel dengan Perawatan Lengkap
Tak mau terus mengekspos anak-anak, ia akhirnya mencari alternatif konten lain yang lebih bermanfaat.
Pada saat yang sama, ia menyadari kondisi rumahnya yang berantakan, terutama dapur yang dipenuhi timbunan barang tak terpakai.
KOMPAS.com/Dok. Pribadi Dika Irawan (36) pendiri jasa Anti Hoarding untuk menolong pengidap hoarding disorder.
Tanpa disadari, kondisi tersebut sering membuatnya pusing dan kesulitan mencari barang. Tumpukan barang itu juga kerap memicu konflik antara dirinya dan sang istri.
"Terus pas mau ambil sesuatu, barangnya di selip-selipan terus timbunannya roboh, sering kali juga saya dan istri ribut gara-gara rumah kok berantakan banget, tapi enggak nyadar bahwa itu masalah," jelas dia.
Akhirnya, Dika memutuskan membersihkan dapur sambil membuat konten. Meski sempat ragu karena tren konten saat itu didominasi rumah estetik, ia tetap melanjutkan idenya.
Tak disangka, konten bersih-bersih dapur tersebut mendapat respons positif dan ditonton hingga sekitar satu juta kali.
Konten itu juga dibanjiri komentar dari penonton yang penasaran dengan cara Dika membersihkan dapurnya.
"Dari situ saya melihat wah ada masalah yang enggak cuma saya alami sendiri, tapi orang-orang seluruh Indonesia mengalami, sehingga perlu ada solusi dan menarik kayaknya buat bikin jasa beres-beres," sambung dia.
Bangun jasa Anti Hoarding
Melalui konten tersebut, Dika juga mendapat banyak masukan untuk mempelajari metode KonMari, yaitu pendekatan merapikan rumah yang dikembangkan oleh Marie Kondo, konsultan pengorganisasian asal Jepang.
Baca juga: Seskab Teddy Tinjau Arus Mudik di Stasiun Senen, Sapa Pemudik dan Cek Kereta Kerakyatan
Ia kemudian belajar secara otodidak tentang metode decluttering, yaitu sistem memilah dan menyingkirkan barang yang sudah tidak terpakai.
"Terus saya iseng-iseng nanya di media sosial, kalau saya bikin jasa beres-beres tertarik enggak, terus banyak yang respon tertarik. Dari situ saya mikir lumayan ada marketnya, dari situ saya memutuskan untuk membuka jasa decluttering," tutur dia.
Ia menegaskan bahwa layanan yang ditawarkan berbeda dari jasa kebersihan biasa. Prosesnya lebih panjang, mulai dari membongkar barang, memilah, menata, hingga tahap akhir pembersihan.