FAJAR, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar menegaskan bahwa peran imam masjid tidak terbatas pada memimpin salat, tetapi juga sebagai penggerak kehidupan sosial dan pembinaan umat.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam kegiatan Coaching Clinic Imam Rawatib di Masjid Agung 45, Jalan Urip Sumoharjo, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, masjid harus berfungsi sebagai pusat interaksi masyarakat, termasuk dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
“Masjid bukan hanya tempat ritual, tetapi juga ruang interaksi dan solusi bagi persoalan umat,” jelasnya.
Munafri juga menekankan pentingnya menjadikan masjid sebagai ruang yang ramah bagi anak-anak. Hal ini dinilai penting untuk membentuk generasi Qur’ani sejak dini dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Selain itu, para imam didorong untuk menyiapkan regenerasi dengan mencetak calon imam baru yang kompeten, guna menjaga keberlanjutan kualitas imamah di masa depan.
Sementara itu, Founder Bosowa Group, Aksa Mahmud, menekankan pentingnya peningkatan kualitas bacaan imam sebagai bagian dari citra keagamaan daerah.
Ia berharap masyarakat dan pendatang dapat merasakan kualitas imam masjid di Makassar yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik dan benar.
Aksa juga menyoroti pentingnya budaya saling mengoreksi di antara para imam agar kesalahan dapat diperbaiki secara berkelanjutan.
“Kalau kita saling mengingatkan, tentu kita bisa terus memperbaiki,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong penguatan tradisi keagamaan seperti lomba barzanji sebagai bagian dari syiar Islam dan pembinaan generasi muda, dengan pelaksanaan yang tetap memperhatikan waktu ibadah, khususnya di bulan Ramadan.
Di akhir kegiatan, Pemerintah Kota Makassar berharap coaching clinic ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari program pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas imam dan peran strategis masjid di tengah masyarakat. (*/)





